Tak Bisa Ikut Bimbel karena Kursi Roda, Rasha Buktikan Mimpi Masuk UGM Tetap Bisa Diraih Meski dengan Keterbatasan

AKURAT JAKARTA - Bagi banyak siswa, mengikuti bimbingan belajar (bimbel) menjadi salah satu cara mempersiapkan diri menghadapi Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Namun, kesempatan itu tidak dimiliki Rasha Putra Permata.
Penyandang disabilitas daksa spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2 tersebut harus belajar secara mandiri karena banyak lembaga bimmbel yang belum memiliki akses ramah bagi pengguna kursi roda.
Meski menghadapi keterbatasan itu, semangat Rasha tidak pernah surut.
Berbekal latihan soal yang dikumpulkan dari teman-temannya dan belajar hingga larut malam, ia akhirnya berhasil mewujudkan impiannya diterima di Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur SNBT.
Perjalanan menuju bangku kuliah bukan hanya menjadi bukti kegigihan Rasha, tetapi juga menggambarkan masih adanya tantangan akses pendidikan yang dihadapi penyandang disabilitas di Indonesia.
Rasha mengaku keinginannya menjadi mahasiswa UGM sudah tumbuh sejak lama.
Ia sering mengunjungi kawasan kampus dan merasa suasana akademiknya membuat dirinya semakin mantap memilih UGM sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
"Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini," tuturnya, Jumat (10/7).
Ketertarikannya pada dunia teknologi juga sudah muncul sejak masih duduk di bangku SMA.
Rasha mempelajari dasar robotika dan pemrograman melalui berbagai kegiatan sekolah.
Di luar itu, ia aktif membuat komik digital di platform Webtoon serta pernah mengikuti kompetisi pengembangan gim dan lomba komik.
"Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah," katanya.
Minat tersebut membuatnya mantap memilih Program Studi Teknik Fisika UGM setelah lebih dulu mencari informasi mengenai beberapa jurusan di Fakultas Teknik.
Ia melihat Teknik Fisika menjadi tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan di bidang rekayasa dan komputasi.
Baca Juga: Ayamnya Nggak Salah, Sausnya yang Kebanyakan: Ketika Cinta Berlebihan Berujung Tensi Tinggian
=====
Namun, tantangan terbesar justru muncul saat mempersiapkan SNBT.
Berbeda dengan banyak peserta lain yang mengikuti bimbingan belajar, Rasha harus mengandalkan kemampuannya sendiri karena keterbatasan akses.
"Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel. Akhirnya dia mengumpulkan soal-soal dari teman-temannya, lalu belajar sendiri sampai jam satu atau dua pagi," terang Triani.
Hampir setiap malam, Rasha berlatih mengerjakan soal hingga dini hari.
Ia mengakui materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) menjadi bagian yang paling menantang selama masa persiapan.
"Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya," ujarnya.
Di tengah kesibukan belajar, Rasha tetap aktif berorganisasi selama menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Yogyakarta.
Ia menjadi pengurus OSIS bidang internal multimedia, dipercaya sebagai koordinator kegiatan sosial dan pentas seni, serta terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah lainnya.
"Selama di SMA saya aktif di OSIS sebagai pengurus internal multimedia. Saya juga pernah menjadi koordinator kegiatan sosial dan pentas seni di sekolah, serta terlibat sebagai asisten koordinator di beberapa kegiatan lainnya," jelasnya.
Keberhasilan Rasha tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya.
Sang ayah, Harsa Permata, merupakan dosen honorer di salah satu perguruan tinggi swasta, sementara ibunya, Triani Priliastuti, adalah ibu rumah tangga.
Keduanya selalu meyakini bahwa kondisi fisik bukanlah batas bagi anak mereka untuk meraih masa depan.
"Dari dulu saya selalu bilang kepada ayahnya, kita sedang membesarkan emas. Di mana pun emas berada, dia akan tetap bersinar. Begitu juga Rasha. Kami percaya dia akan menemukan jalannya untuk terus berkembang," ujar Triani.
Kini, setelah berhasil menjadi mahasiswa UGM, kedua orang tuanya berharap semakin banyak lingkungan pendidikan yang benar-benar inklusif.
Menurut mereka, aksesibilitas yang baik akan memberi kesempatan yang sama bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.
Baca Juga: Naruto Cari Pemeran Lewat Audisi Global, Mungkinkah Orang Indonesia Jadi Ninja Konoha?
=====
"Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman dan mengembangkan potensinya. Kami percaya mereka memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi dan memberi manfaat bagi banyak orang," pungkas Harsa.
Perjalanan Rasha membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu mampu membatasi tekad seseorang.
Namun di sisi lain, kisah ini juga menjadi pengingat bahwa akses pendidikan yang inklusif masih perlu terus diperluas agar setiap anak memiliki kesempatan yang setara untuk mengejar cita-citanya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Fenerbahce vs Lyon di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Mampukah The Yellow Canaries Raih Kemenangan di Kandang Sendiri?
- 2Prediksi Skor Levski Sofia vs AEK Athens di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Momentum Tuan Rumah Jadi Ancaman Juara Liga Yunani
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Dinamo Zagreb vs Viking di Playoff UCL, 19 Agustus 2026: Tuan Rumah Punya Rekor Impresif
- 7Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 8Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya





