Harga Kedelai di Pasar Tradisional Naik, Dinas KPKP DKI Sebut Dipicu Gejolak Global dan Pelemahan Rupiah

AKURAT JAKARTA – Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta mengungkapkan penyebab harga komoditas kedelai di DKI Jakarta mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir imbas konflik Timur Tengah.
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut kenaikan tersebut dipicu oleh dinamika global serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ia menjelaskan, berdasarkan pantauan di lapangan, harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe saat ini berada di kisaran Rp10.500 hingga Rp11.000 per kilogram. Angka tersebut naik dari harga sebelumnya yang berkisar Rp8.000 hingga Rp8.600 per kilogram.
Sementara itu, harga kedelai di tingkat pedagang pasar tradisional juga mengalami kenaikan menjadi Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp13.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
"Harga kedelai mengalami kenaikan bervariatif mulai Rp10.500 sampai Rp11.000 per kilogram pada tingkat pengrajin tahu dan tempe dari sebelumnya Rp8.000 sampai Rp8.600 per kilogram," kata Hasudungan saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (9/4/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga kedelai tidak terlepas dari faktor global, terutama kondisi di Amerika Serikat sebagai salah satu negara eksportir kedelai terbesar dunia.
Selain itu, penurunan nilai tukar rupiah juga turut mempengaruhi harga impor komoditas tersebut.
"Kenaikan harga dikarenakan adanya dinamika secara global terkait gejolak negara eksportir kedelai terbesar Amerika Serikat dan nilai tukar rupiah yang menurun," ujarnya.
Hasudungan menambahkan, berdasarkan hasil pemantauan petugas enumerator dan statistik pertanian DKI Jakarta, kenaikan harga kedelai mulai terlihat sejak Ramadan pada Februari 2026 dan masih mengalami fluktuasi hingga saat ini.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh ketergantungan pasokan kedelai Jakarta terhadap impor.
Sebagian besar kebutuhan kedelai ibu kota berasal dari luar negeri, sementara pasokan domestik hanya berasal dari beberapa daerah produsen seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat dalam jumlah terbatas.
Komoditas kedelai sendiri merupakan bahan baku utama bagi para pengrajin tahu dan tempe di Jakarta, termasuk yang tergabung dalam Pusat Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta dan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).
Untuk meminimalisir dampak kenaikan harga, Pemprov DKI Jakarta juga mendorong masyarakat untuk melakukan diversifikasi pangan dengan mengonsumsi komoditas alternatif yang memiliki nilai gizi seimbang namun dengan harga lebih terjangkau.
Selain itu, masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan lahan terbatas melalui kegiatan urban farming sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga secara mandiri.
"Kami juga menghimbau masyarakat untuk menyesuaikan kebutuhan konsumsi pangannya dengan komoditas lain yang memiliki nilai gizi seimbang dengan harga lebih terjangkau serta memanfaatkan urban farming," tukas Hasudungan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









