Jakarta

Tanjidor: Irama Betawi Bernuansa Eropa dari Masa ke Masa

Zainal Abidin | 21 Juli 2025, 08:00 WIB
Tanjidor: Irama Betawi Bernuansa Eropa dari Masa ke Masa

AKURAT JAKARTA - Di tengah hiruk-pikuk metropolitan Jakarta, masih terdengar alunan musik Tanjidor dari terompet, trombon, dan drum yang membelah jalanan dalam suasana meriah dan penuh warna.

Tanjidor menjadi budaya Betawi yang merekam perjalanan sejarah panjang dari daratan Eropa hingga pelosok kampung-kampung di Jakarta.

Tanjidor bukan sekadar musik tradisional, melainkan hasil percampuran budaya yang unik antara pengaruh Eropa dan kreativitas lokal masyarakat Betawi.

Baca Juga: Menyusuri Warisan Budaya Betawi di Setu Babakan: Wisata Edukatif dan Asri di Tengah Jakarta

Istilah tanjidor dipercaya berasal dari kata dalam bahasa Portugis “tangedor”, yang berarti pemusik atau pemain alat musik.

Masuknya tanjidor ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi antara abad ke-14 hingga ke-16, ketika bangsa Portugis mulai menjelajahi Nusantara.

Namun, bentuk tanjidor seperti yang kita kenal saat ini mulai berkembang pada abad ke-18, ketika pengaruh Belanda lebih mendominasi Batavia.

Baca Juga: Rayakan Semarak Budaya Betawi di Festival Ondel-Ondel 2025 di TMII

Kala itu, instrumen musik tiup bergaya militer Eropa mulai dikenalkan kepada masyarakat lokal, terutama para pekerja dan budak yang bermukim di sekitar rumah para bangsawan atau tuan tanah.

Seiring berakhirnya era perbudakan, muncullah kelompok-kelompok musik rakyat yang memanfaatkan alat-alat musik peninggalan tersebut, hingga akhirnya terbentuklah sebuah ansambel yang kini kita kenal sebagai Tanjidor.

Tanjidor dimainkan dengan formasi ansambel, menggunakan instrumen tiup seperti klarinet, trompet, dan trombon, serta alat perkusi seperti tambur dan simbal.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Soto Enak di Jakarta, Mulai Ambengan, Tangkar hingga Betawi, Dijamin Segar Bikin Ketagihan

Musik yang dihasilkan bercorak ceria, penuh semangat, dan terkadang diiringi tarian.

Repertoarnya mencakup lagu-lagu Betawi, mars bergaya militer, polka, keroncong, hingga lagu Barat yang diaransemen ulang dalam gaya tanjidor.

Tanjidor sering tampil di acara pengantaran pengantin adat Betawi, Cap Go Meh, serta pawai budaya Jakarta.

Baca Juga: Jalan-jalan ke 3 Destinasi Wisata yang Kental dengan Nuansa Betawi, Ini Rekomendasinya

Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kekayaan budaya lokal Jakarta, menyaksikan pertunjukan Tanjidor adalah pengalaman yang tak boleh dilewatkan.

Tak hanya menawarkan hiburan, Tanjidor juga membuka jendela sejarah mengenai bagaimana budaya asing diserap dan diolah menjadi bagian dari identitas lokal.

Kini, meski tergilas oleh musik digital dan hiburan modern, Tanjidor tetap hidup di beberapa wilayah seperti Jakarta Timur, Depok, dan Bekasi melalui komunitas-komunitas seni Betawi.

Baca Juga: Kuliner Betawi yang Sarat Filosofi, Lebih dari Sekadar Cita Rasa

Pemerintah daerah bersama para pelaku budaya juga aktif mengangkat Tanjidor ke panggung festival dan wisata budaya, menjadikannya simbol kekuatan tradisi di tengah dinamika zaman.

Tanjidor bukan hanya soal musik, Tanjidor adalah bukti bahwa budaya bisa lahir dari pertemuan, bertahan karena kecintaan, dan terus mengalun selama masih ada yang mau mendengarkan.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.