1.400 Penerbangan Swiss Dibatalkan Gegara Kekurangan Pilot Bikin Wisatawan Eropa Panik Musim Panas Ini

AKURAT JAKARTA - Musim panas tahun ini bisa menjadi masa penuh tantangan bagi pelancong yang bepergian ke atau transit di Swiss.
Maskapai nasional Swiss Airlines dikabarkan akan membatalkan sekitar 1.400 penerbangan antara sekarang hingga Oktober 2025 karena menghadapi kekurangan pilot.
Situasi ini tentu memicu kekhawatiran akan potensi gangguan besar di sektor penerbangan Eropa saat musim liburan mencapai puncaknya.
Mengutip laporan dari Euronews, Minggu, (1/6/2025), pemangkasan jadwal penerbangan ini akan berdampak pada sejumlah rute dari Zurich dan Jenewa, termasuk penerbangan jarak pendek ke berbagai kota di Eropa.
Bahkan, beberapa layanan jarak jauh seperti tujuan Shanghai dan Chicago akan mengalami pengurangan frekuensi.
Swiss Airlines mengakui situasi ini sebagai kondisi yang "sangat disesalkan".
Baca Juga: Liburan Long Weekend? Ini 5 Destinasi Dekat Jakarta yang Wajib Dicoba
Mereka juga menangguhkan sejumlah rute musim panas sepenuhnya, termasuk penerbangan ke Hurghada, Mesir.
Untuk mengurangi dampak krisis, perusahaan telah memperkenalkan solusi sementara seperti menunda pensiun sukarela, membeli kembali jatah cuti, dan mengimbau pilot paruh waktu untuk menambah jam kerja.
Maskapai ini bekerja sama erat dengan serikat pilot Aeropers untuk menyusun jadwal lebih fleksibel dan mengurangi pembatalan mendadak akibat kelelahan awak.
Baca Juga: Liburan Hemat di Jakarta? Ini 4 Event Seru yang Bisa Kamu Nikmati Tanpa Bikin Kantong Jebol
Swiss berjanji akan memberi informasi secepat mungkin kepada para penumpang terdampak, termasuk opsi pemesanan ulang di jaringan maskapai mitra seperti Lufthansa Group dan Star Alliance.
Krisis ini tidak hanya menimpa Swiss.
Maskapai-maskapai lain seperti KLM, Air France, dan British Airways juga tengah berjuang menghadapi kekurangan kru kokpit.
Baca Juga: Dari Taman Sampai Skydeck: 10 Wisata Dekat LRT Jabodebek Ini Mudah Diakses dan Instagramable
KLM, misalnya, mengakui bahwa meskipun jumlah pilot bertambah, cuti sakit dan pekerjaan paruh waktu meningkat drastis.
"Kami kehilangan sekitar 50 pekerjaan penuh waktu per tahun karena semua pekerjaan paruh waktu," ujar Eimerd Bult dari KLM, kepada Telegraaf.
Bahkan, Air France dilaporkan akan mengambil alih beberapa penerbangan jarak jauh KLM mulai Juli hingga Oktober 2025.
Baca Juga: Benarkah Kapal Nabi Nuh Karam di Timor? Menguak Misteri Bukit Fatukopa yang Dikeramatkan
Di sisi lain, British Airways dan easyJet bersaing ketat merekrut pilot baru, bahkan menawarkan pelatihan senilai 1,8 miliar rupiah per orang.
Sumber utama kekurangan ini berakar dari pandemi COVID-19, yang sempat menghentikan pelatihan pilot baru dan mempercepat gelombang pensiun.
FAA di AS memperkirakan sekitar 4.300 pilot akan pensiun setiap tahun hingga 2042, dan Eropa menghadapi krisis serupa.
Baca Juga: Rahasia Liburan Keluarga Tetap Seru Meski Dompet Tipis, Simak Triknya Berikut ini!
Konsultan Oliver Wyman memprediksi bahwa pada 2032 dunia bisa kekurangan hampir 80.000 pilot, dengan Eropa menyumbang defisit hingga 19.000 orang.
Bagi pelancong, ini berarti lebih sedikit penerbangan langsung, waktu transit lebih lama, dan kompetisi ketat untuk mendapatkan kursi.
Saran terbaik adalah memesan tiket lebih awal, fleksibel terhadap jadwal, dan selalu mengecek notifikasi dari maskapai.
Baca Juga: Tak Masuk 10 Besar Wisata Medis Dunia, Indonesia Justru Fokus ke Wellness di Bali
Meski pengembalian dana dan pemesanan ulang dijamin, kecepatan kamu dalam merespons perubahan bisa menentukan kenyamanan perjalanan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









