Manajer Timnas U-17 Zaki Iskandar Soroti Dampak Gizi dalam Pembinaan Atlet Muda di Indonesia

AKURAT JAKARTA — Manajer Timnas Indonesia U-17, Ahmed Zaki Iskandar, memberikan catatan terkait kualitas pemain sepak bola nasional yang sangat dipengaruhi oleh pola makan.
Menurut Zaki, asupan gizi pada masa pertumbuhan, yakni usia 6 hingga 17 tahun, menjadi faktor penentu yang mendasar bagi kualitas atlet di masa depan.
Dalam bincang-bincang di kanal Podcast Nusantara TV, Zaki menyoroti kebiasaan konsumsi makanan yang kurang sehat di kalangan anak muda Indonesia. Ia menyebut konsumsi gorengan dan mi instan masih menjadi kendala besar dalam pembentukan fisik atlet sejak usia dini.
Baca Juga: Bang Zaki Tekankan Pentingnya Pembaruan Metode Latihan SSB dalam Pembinaan Pemain Muda
"Asupan gizi dalam masa pertumbuhan itu sangat penting, mulai dari usia 6 sampai 17 tahun. Kalau di usia dini ini mereka masih mengonsumsi gorengan atau mi instan, tentu ini harus menjadi koreksi besar bagi kita semua," ujar Zaki.
Zaki menjelaskan bahwa postur tubuh pemain bukan sekadar faktor genetika atau DNA semata, melainkan hasil bentukan dari nutrisi yang diserap tubuh sejak kecil.
Dia membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara-negara penghasil pemain sepak bola dunia yang memiliki standar gizi lebih tinggi.
Baca Juga: Manajer Timnas U-17 Zaki Iskandar: Penunjukan Kapten Libatkan Psikolog demi Karakter Kepemimpinan
"Suka atau tidak, postur kita adalah bentukan dari apa yang kita konsumsi. Karena asupan gizinya tidak seperti di luar negeri, hal itu akan berdampak berbeda dalam kualitas menelorkan pemain," tuturnya menjelaskan.
Menurutnya, tanpa dukungan gizi yang maksimal, talenta sehebat apa pun akan sulit mencapai potensi tertingginya. Zaki memberikan perumpamaan bahwa bakat alami saja tidak cukup untuk menandingi pemain kelas dunia jika fondasi fisiknya lemah.
"Kalaupun kita memiliki talenta seperti Messi, misalnya, kita tidak akan pernah bisa menyamai mereka jika pola gizinya salah," tegas Zaki.
Lebih jauh, Zaki memberikan gambaran statistik terkait dampak gizi terhadap performa di lapangan. Ia menilai, kekurangan asupan nutrisi yang maksimal sejak dini menciptakan "plafon" atau batas atas pada kemampuan pemain Indonesia.
"Jika kita memberi skor 1 sampai 10, pemain kita dengan disiplin tinggi sekalipun paling mentok di angka 7,5. Mengapa? Karena asupan gizinya dari awal tidak maksimal," jelasnya.
Ia membandingkan situasi tersebut dengan negara kiblat sepak bola seperti Brasil atau Argentina, di mana akses terhadap protein berkualitas, seperti daging, jauh lebih terjangkau dan menjadi konsumsi harian.
Perbedaan ketersediaan protein inilah yang dinilai Zaki menjadi tantangan besar bagi ekosistem pembinaan atlet di tanah air. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





