Jangan Sepelekan! Ini Panduan Lengkap Skrining Kesehatan Saluran Kemih Pria Berdasarkan Usia

AKURAT JAKARTA - Banyak pria sering kali mengabaikan gejala gangguan saluran kemih. Akibatnya, mereka baru datang ke dokter saat kondisi kesehatannya sudah memburuk.
Meski kerap dianggap sebagai penyakit orang tua, faktanya gangguan saluran kemih kini bisa dialami oleh pria di usia berapa saja.
Spesialis Urologi Eka Hospital MT Haryono, dr. Dyandra Parikesit, BMedSc., Sp.U, FICS menjelaskan, pola hidup masyarakat modern yang minim bergerak, tingkat stres tinggi, serta faktor genetik menjadi pemicu utamanya.
Baca Juga: Transformasi Bedah Robotik, Eka Hospital MT Haryono Luncurkan Summit Robotic & Endourology Institute
Kondisi tersebut membuat pria di usia produktif kini sudah harus waspada terhadap kesehatan saluran kemih mereka.
Menurut dr. Dyandra, salah satu tindakan pencegahan terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan skrining.
Berikut adalah panduan lengkap skrining kesehatan urologi pria berdasarkan kelompok usia beserta rincian indikasi klinisnya:
Baca Juga: Waspada, Kenali Gejala Radang Usus Kronis yang Sering Dikira Sakit Maag
1. Usia 30-an: Fokus Program Kehamilan dan Reproduksi
Pada rentang usia ini, pria umumnya berada di puncak masa produktif. Namun, tekanan pekerjaan yang memicu stres tinggi, kebiasaan merokok, serta pola hidup yang terlalu banyak duduk menjadi pemicu utama gangguan urologi.
Analisis Sperma (Sperm Analysis): Skrining ini wajib bagi pria yang sedang merencanakan program kehamilan bersama pasangan. Melalui pemeriksaan laboratorium, dokter dapat mengevaluasi kuantitas, pergerakan, dan bentuk sperma.
Deteksi Dini Varikokel: Pemeriksaan USG testis digunakan untuk mendeteksi varikokel, yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di dalam kantung testis. Varikokel merupakan penyebab utama infertilitas pria yang paling sering ditemukan pada usia produktif namun jarang disadari.
2. Usia 45 Ke Atas: Evaluasi Fungsi Seksual dan Gejala Prostat
Memasuki usia kepala empat, tubuh pria mulai mengalami penurunan produksi hormon testosteron secara perlahan serta berkurangnya elastisitas jaringan saluran kemih.
Evaluasi Disfungsi Ereksi (Impotensi): Kondisi ini sering menjadi penanda awal adanya kerusakan atau penyumbatan pembuluh darah yang berkaitan erat dengan penyakit jantung koroner, hipertensi, atau diabetes mellitus.
Pemeriksaan Fungsi Ginjal Berkala: Tes darah laboratorium untuk memantau kadar Ureum dan Kreatinin. Skrining ini bertujuan menilai kemampuan filtrasi ginjal agar tanda-tanda gagal ginjal dapat diidentifikasi sejak awal.
Pemantauan Gejala Berkemih (Lower Urinary Tract Symptoms): Pria harus waspada jika mengalami gejala LUTS. Gejalanya meliputi aliran urin yang melemah, harus mengejan saat berkemih, urin menetes di akhir, atau sering terbangun di malam hari hanya untuk buang air kecil (nocturia).
3. Usia 50 Tahun Ke Atas: Skrining Wajib Kanker Prostat & BPH
Saat memasuki usia 50 tahun, pria sangat diwajibkan melakukan pemeriksaan saluran kemih tahunan. Pada fase ini, kelenjar prostat mengalami pertumbuhan sekunder yang rentan memicu keganasan.
Tes PSA (Prostate-Specific Antigen): Pemeriksaan darah sederhana untuk mengukur kadar protein PSA. Peningkatan kadar PSA menjadi indikator awal adanya gangguan pada prostat, termasuk risiko tinggi terkena kanker prostat jauh sebelum gejala fisik muncul.
Uroflowmetry: Prosedur diagnostik non-invasif untuk mengukur volume, kecepatan pancaran, dan durasi keluarnya urin. Hasil grafik alat ini membantu dokter menentukan tingkat keparahan sumbatan saluran kemih yang umumnya disebabkan oleh Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
Kapan Harus Konsultasi
dr. Dyandra mengingatkan agar para pria tidak menunda pemeriksaan urologi hanya karena merasa belum ada keluhan yang menyakitkan.
Melakukan skrining sejak dini dapat membantu mempertahankan fungsi reproduksi, seksual, dan sistem ekskresi urin yang optimal hingga usia lanjut.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026





