Jakarta

Waspada Aritmia, Mengenal Batas Aman Irama Jantung yang Tidak Beraturan

Yusuf Doank | 31 Maret 2026, 15:23 WIB
Waspada Aritmia, Mengenal Batas Aman Irama Jantung yang Tidak Beraturan
dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, Dokter Konsultan Aritmia dari Eka Hospital MT Haryono

AKURAT JAKARTA - Jantung tiba-tiba berdegup kencang secara mendadak saat sedang bersantai? Sensasi debaran yang muncul tiba-tiba ini sering kali memicu kecemasan.

Menurut dr. Evan Jim Gunawan, Sp.PD, Sp.JP, (K) CCDS, Dokter Konsultan Aritmia dari Eka Hospital MT Haryono, tidak semua kondisi jantung berdebar merupakan pertanda bahaya.

Jantung manusia bekerja melalui sistem kelistrikan yang rumit untuk memicu denyut otot secara konsisten.

Baca Juga: Terekam CCTV, Mahasiswi di Prabumulih Menjadi Korban Pembegalan Sadis

Irama jantung yang tidak beraturan, atau yang secara medis disebut sebagai aritmia, terjadi ketika sinyal listrik tersebut mengalami gangguan atau hambatan pada jalurnya.

Jenis Gangguan Irama Jantung

Secara umum, gangguan irama jantung dikategorikan berdasarkan kecepatan dan keteraturannya:

Takikardia: Kondisi jantung berdetak terlalu cepat, yakni lebih dari 100 kali per menit saat posisi istirahat.

Bradikardia: Jantung berdetak terlalu lambat (kurang dari 60 kali per menit), yang sering memicu rasa pusing dan mudah lelah.

Atrial Fibrilasi (AF): Jenis aritmia yang paling umum dan serius karena detak jantung tidak beraturan. Jika tidak segera ditangani, AF berisiko memicu penggumpalan darah yang berujung pada serangan stroke.

Debaran Fisiologis dan Patologis

dr. Evan menjelaskan bahwa untuk mengukur tingkat bahaya, pasien perlu melihat pemicu debaran tersebut melalui dua kategori:

Fisiologis (Wajar): Muncul akibat konsumsi kafein berlebih, olahraga berat, atau emosi kuat seperti stres dan panik. Irama biasanya kembali normal setelah pemicu hilang.

Patologis (Bahaya): Muncul tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan lama, dan disertai gejala fisik. Kondisi ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan penanganan medis.

Risiko dan Tanda Peringatan

Selain faktor keturunan dan usia, beberapa kondisi medis seperti hipertensi, diabetes, gangguan tiroid, hingga sleep apnea (gangguan napas saat tidur) dapat merusak sistem listrik jantung. Ketidakseimbangan elektrolit, terutama kekurangan kalium atau magnesium, juga turut mengganggu transmisi sinyal listrik.

Masyarakat diimbau segera mencari bantuan medis jika debaran jantung disertai dengan gejala penyerta seperti:

Pingsan atau nyaris pingsan. Sesak napas saat tidak beraktivitas. Nyeri dada seperti tertindih beban berat. Rasa lemas yang muncul mendadak. Deteksi dan Penanganan Modern

Untuk mendiagnosis aritmia, dokter biasanya menggunakan metode screening seperti Elektrokardiogram (EKG), Holter monitoring (perekaman jantung 24-48 jam), hingga event recorder.

Kabar baiknya, teknologi medis terkini memungkinkan penanganan aritmia secara efektif. Salah satu metode yang populer adalah ablasi jantung, sebuah prosedur minimal invasif untuk memperbaiki jalur listrik yang rusak tanpa perlu bedah terbuka.

Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) telah membantu banyak pasien kembali beraktivitas normal. Melakukan pemeriksaan sejak dini menjadi kunci utama untuk mengantisipasi gangguan serius pada organ vital tersebut. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y