Jakarta

Cara Mudah Alihkan Kebiasaan Anak dari Ketergantungan Gawai

Yusuf Doank | 31 Maret 2026, 07:21 WIB
Cara Mudah Alihkan Kebiasaan Anak dari Ketergantungan Gawai
Ilustrasi

AKURAT JAKARTA -- Peralihan kebiasaan anak dari ketergantungan gawai menuju aktivitas yang lebih produktif memerlukan pendekatan yang inspiratif, bukan sekadar pelarangan.

Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ) Jakarta, Prof. Susanto, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengarahkan minat anak ke dunia nyata guna mengimbangi paparan teknologi yang kian masif.

"Pengalihan kebiasaan anak ke arah yang lebih produktif membutuhkan pendekatan yang tidak sekadar melarang, tetapi mengarahkan dan menginspirasi. Anak perlu merasakan kepuasan nyata di dunia luring (offline)," kata Prof. Susanto saat dihubungi di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Ratusan Personel Pasukan Khusus AS Tiba di Timur Tengah

Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pemberlakuan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, yang merupakan aturan pelaksana dari PP Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), efektif sejak 28 Maret 2026.

Menurut Ketua KPAI periode 2017-2022 tersebut, regulasi ini harus dibarengi dengan penguatan aktivitas berbasis minat dan bakat, seperti olahraga, seni, sains, hingga kewirausahaan sederhana sejak dini.

Selain mendorong kegiatan berbasis proyek—seperti berkarya, menanam pohon, atau aktivitas sosial—Susanto mengingatkan bahwa orang tua harus menjadi role model atau teladan digital bagi anak.

Dia menilai anak-anak lebih banyak belajar dari perilaku nyata orang tua dibandingkan sekadar nasihat lisan.

"Batasi sekaligus dampingi penggunaan teknologi, bukan dengan kontrol ketat semata, melainkan melalui dialog dan kesepakatan bersama," imbuhnya.

Penggunaan internet pun sebaiknya diarahkan untuk mempelajari keterampilan baru, bukan sekadar konsumsi hiburan pasif.

Keberhasilan dalam menjauhkan anak dari dampak negatif gawai tidak hanya bergantung pada regulasi pemerintah, tetapi juga kolaborasi erat antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Upaya ini, menurut Susanto, bertujuan membekali generasi muda agar mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri dan karakter.

Diharapkan, langkah kolektif ini menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi Indonesia yang unggul dan berdaya saing global di masa depan.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y