Jakarta

Tren Diet Tanpa Nasi, Ini Risiko Tersembunyinya yang Harus Kamu Ketahui

Anggerhana Denni Rahmawati | 26 Maret 2026, 16:15 WIB
Tren Diet Tanpa Nasi, Ini Risiko Tersembunyinya yang Harus Kamu Ketahui
Tren diet tanpa nasi belum tentu aman. (Freepik)

AKURAT JAKARTA - Tren diet tanpa nasi kembali ramai dan memicu rasa penasaran banyak orang.

Tren ini dianggap sebagai cara cepat menurunkan berat badan oleh sebagian kalangan.

Tren diet tanpa nasi juga makin populer di media sosial, terutama di kalangan anak muda yang ingin tampil lebih ideal.

Baca Juga: BRIN Prediksi Indonesia Bakal Dilanda El Nino Godzilla 2026, Waspadai Kemarau Ekstrem Sebabkan Sejumlah Penyakit Ini

Fenomena ini membuat banyak orang mulai mengurangi bahkan menghilangkan nasi dari menu harian mereka.

Namun, di balik popularitasnya, para ahli gizi mengingatkan bahwa pola makan seperti ini tidak selalu aman jika dilakukan tanpa perencanaan yang tepat.

Nasi selama ini dikenal sebagai sumber utama karbohidrat kompleks yang dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan energi.

Baca Juga: Jarang Orang Tahu, Studi Ungkap Manfaat Secangkir Teh bagi Ibu Hamil

Ketika kamu menghilangkan nasi tanpa menggantinya dengan sumber nutrisi setara, tubuh bisa mengalami kekurangan energi.

Kondisi ini dapat menyebabkan kamu mudah lelah, sulit fokus, hingga merasa lemas saat menjalani aktivitas sehari-hari.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, pengurangan karbohidrat secara drastis dapat memicu hipoglikemia.

Baca Juga: Kecelakaan Maut, Rombongan Keluarga Terjun ke Jurang Majalengka, Enam Nyawa Melayang

Gejalanya meliputi pusing, gemetar, hingga jantung berdebar.

Hal ini tentu bisa mengganggu kesehatan jika tidak segera diatasi.

Tak hanya berdampak pada energi, diet tanpa nasi juga bisa memengaruhi sistem pencernaan kamu.

Baca Juga: Mo Salah Resmi Tinggalkan Liverpool Akhir Musim Ini, Selanjutnya Gabung MLS atau SPL?

Berkurangnya asupan serat dari pola makan harian berpotensi menyebabkan sembelit, perut kembung, serta perubahan pola buang air besar.

Selain itu, perubahan pola makan secara tiba-tiba membuat tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Dari sisi emosional, asupan karbohidrat yang rendah juga berpengaruh pada suasana hati.

Baca Juga: Aduan THR 2026 Capai 1.461 Kasus, Menaker Yassierli Perintahkan Pengawas Pusat dan Daerah Bergerak Cepat Tindaklanjuti

Karbohidrat berperan penting dalam produksi serotonin yang mengatur mood.

Ketika kamu kekurangan asupan ini, risiko mengalami perubahan emosi, mudah marah, stres, hingga gangguan tidur menjadi lebih tinggi.

Dalam jangka panjang, diet tanpa nasi juga berpotensi menyebabkan hilangnya massa otot.

Baca Juga: Viral! Mobil Dinas Pemprov DKI Dipakai Mudik Tertangkap Kamera di Tol Banyumanik, Ini Klarifikasi BPAD Jakarta

Saat tubuh kekurangan karbohidrat, protein dari otot akan digunakan sebagai sumber energi.

Akibatnya, penurunan berat badan yang terjadi tidak hanya berasal dari lemak, tetapi juga massa otot yang justru penting untuk metabolisme tubuh.

Selain itu, kamu juga perlu mewaspadai risiko kekurangan nutrisi.

Baca Juga: Viral! Truk Dinas Lingkungan Hidup DKI Buang Sampah ke Kali Pesanggrahan Dekat TPU Tanah Kusir, Ini Faktanya

Meski nasi bisa diganti dengan sumber karbohidrat lain seperti kentang, jagung, atau oat, kebutuhan nutrisi tetap harus terpenuhi.

Jika tidak, tubuh berisiko kekurangan vitamin B kompleks, serat, dan mineral penting lainnya.

Pada tahap awal menjalani diet rendah karbohidrat, keluhan seperti sakit kepala juga sering muncul sebagai bagian dari proses adaptasi tubuh.

Baca Juga: Tak Perlu Diet Ketat, Simak 4 Cara Sederhana Hilangkan Lemak Perut Berikut Ini

Oleh karena itu, para ahli menegaskan bahwa diet tanpa nasi boleh saja dilakukan, asalkan kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi dengan baik.

Penting bagi kamu untuk tidak melakukan perubahan pola makan secara ekstrem tanpa perhitungan.

Mengatur pola makan secara bertahap dan seimbang jauh lebih disarankan agar kesehatan tetap terjaga tanpa menimbulkan risiko baru. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.