Benarkah Tidur di Bulan Ramadhan Termasuk Ibadah? Ini Faktanya

AKURAT JAKARTA - Bulan Ramadhan kerap mengubah pola aktivitas harian.
Ada yang memilih mengurangi kegiatan fisik agar tidak cepat lelah, bahkan menghabiskan hampir seluruh waktu siang dengan tidur.
Namun, apakah langkah tersebut aman dari sisi hukum agama?
Baca Juga: 5 Surga Kue Basah di Jakarta yang Selalu Diburu Pembeli
Tidak Termasuk Pembatal Puasa
Secara fikih, puasa dinyatakan sah apabila kamu sudah berniat pada malam hari dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ketentuan ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 187 tentang perintah menyempurnakan puasa hingga malam.
Baca Juga: Asyik, Enam Ruas Tol Ini Gratis Saat Mudik Lebaran 2026
Para ulama sepakat bahwa pembatal puasa meliputi makan, minum, serta hubungan suami istri di siang hari Ramadhan dan hal-hal lain yang sejenis.
Tidur tidak termasuk dalam kategori tersebut.
Artinya, jika kamu tidur dari pagi sampai sore, tetapi sudah berniat puasa dan tidak melakukan pembatal puasa, maka puasamu tetap sah.
Baca Juga: Venue Bertaraf Internasional, PSSI Pilih Kalimantan Timur Jadi Tuan Rumah Piala AFF U-17 2026
Mayoritas ulama juga berpendapat bahwa banyak tidur di siang hari tidak menggugurkan keabsahan puasa, selama kamu tidak berada dalam kondisi pingsan sepanjang hari.
Perbedaan Tidur dan Pingsan
Dalam literatur fikih, dibahas kondisi seseorang yang tidak sadar penuh sepanjang waktu puasa, misalnya pingsan sejak sebelum Subuh hingga setelah Maghrib.
Baca Juga: Jakarta Ramadhan Festival 2026, Pesta Cahaya dan Budaya di Jantung Ibu Kota
Dalam mazhab Syafi’i, apabila seseorang benar-benar tidak sadar sepanjang waktu puasa, maka puasanya tidak sah.
Namun, tidur berbeda dengan pingsan.
Orang yang tidur tetap berada dalam kondisi normal dan bisa terbangun kapan saja.
Baca Juga: Imlek Festival 2577 di Lapangan Banteng, Harmoni Budaya di Bulan Ramadhan
Karena itu, tidur seharian tidak otomatis membatalkan puasa.
Bagaimana dengan Pahalanya?
Meski tidak membatalkan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus.
Tujuan utamanya adalah membentuk ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 183.
Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan dan momentum memperbanyak ibadah.
Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai” (HR Bukhari dan Muslim).
Artinya, puasa menjadi benteng dari perbuatan dosa dan hawa nafsu.
Jika waktu siang sepenuhnya kamu habiskan untuk tidur tanpa meningkatkan kualitas ibadah, kamu bisa kehilangan banyak peluang pahala.
Ada ungkapan populer bahwa “tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah”.
Para ulama menjelaskan, tidur bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menjaga stamina agar kuat beribadah.
Namun, jika tidur membuatmu lalai dari shalat wajib atau kewajiban lain, hal itu tentu berdosa dan mengurangi nilai puasamu. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









