Kue Gambang: Manisnya Warisan Kuliner Betawi yang Melegenda

AKURAT JAKARTA - Di tengah modernisasi Jakarta yang semakin pesat, kuliner tradisional Betawi tetap menjadi daya tarik wisata yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu sajian legendaris yang patut dicicipi adalah kue gambang.
Kue berbentuk persegi panjang kecil dengan taburan wijen ini memiliki cita rasa manis legit dan aroma rempah yang khas, menjadikannya favorit di kalangan pencinta kuliner tempo dulu.
Baca Juga: Berani Coba? 5 Kuliner Ekstrem Khas Nusantara yang Bikin Penasaran
Kue gambang dipercaya telah ada sejak masa kolonial Belanda.
Namanya diambil dari alat musik tradisional Betawi, gambang kromong, karena bentuk kue ini menyerupai bilah-bilah gambang.
Dengan bahan sederhana seperti tepung terigu, gula merah, kayu manis, dan sedikit santan atau margarin, kue ini menawarkan rasa yang kaya dan tekstur padat, berbeda dari kue bolu pada umumnya.
Baca Juga: Tebet Punya 3 Bakery Hits, Harga Mulai Rp 12 Ribuan Saja
Dahulu, kue gambang kerap hadir di berbagai hajatan dan perayaan keluarga Betawi.
Kini, meskipun tidak sebanyak dulu, kue ini masih bisa ditemukan di pasar tradisional atau toko kue khas Betawi.
Beberapa pedagang bahkan mencoba inovasi baru, seperti menambahkan cokelat atau kacang untuk menarik minat generasi muda.
Baca Juga: Minuman Sehat, Resep Wedang Ronde yang Mudah Dibikin di Rumah
Selain rasa yang lezat, kue gambang memiliki nilai budaya yang tinggi.
Ia menjadi simbol kehangatan dan keramahan masyarakat Betawi.
Wisatawan yang ingin merasakan suasana Jakarta tempo dulu dapat menjadikan kue gambang sebagai oleh-oleh khas yang sarat makna sejarah.
Baca Juga: Mudah Resep Peyek Udang Rasanya Gurih, Cocok Buat Cemilan Bisa Juga untuk Lauk Makan
Melestarikan kue gambang berarti turut menjaga identitas kuliner Betawi.
Dengan harga yang relatif terjangkau dan bahan yang mudah didapat, kue ini layak dipertahankan sebagai salah satu ikon kuliner tradisional Indonesia.
Saat berkunjung ke Jakarta, sempatkan diri mencicipi manisnya kue gambang—sepotong cerita masa lalu yang hadir di meja makan masa kini. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









