Pengamat Sebut Kebijakan WFH di Jakarta Tidak Akan Pengaruhi Polusi Udara

AKURAT.CO - Pengamat Kebijakan Publik, Trubus Rahardiansyah menilai kebijakan work from home (WFH) sebagai bentuk mengatasi polusi udara yang semakin meningkat di ibu kota, tidak akan berpengaruh.
"Gak akan banyak pengaruh (WFH) karena kan pada akhirnya masyarakat tetap bermobilitas, gimana caranya menekan masyarakat gak bermobilitas?" kata Trubus di Balai Kota DKI, Senin (14/08).
Menurutnya, saat covid-19 masyarakat mau WFH. Namun, saat ini baik pekerja maupun perusahaan lebih setuju untuk work from office (WFO) untuk peningkatan produktivitas.
Baca Juga: Penjual Data Nasabah Bank Breachforums Ditangkap, Berikut Modus Tersangka MRGP
"Dulu masyarakat mau (WFH) karena ada pandemi covid-19. Sekarang dengan kondisi new normal dan betul-betul normal sudah gak ada masyarakat yang mau, perusahaan swasta juga gak ada yang mau. Semua maunya hadir di kantor karena kinerja dan produktivitas bisa digenjot," terangnya.
Ia menuturkan, dalam menerapkan WFH sendiri perlu perangkat pendukung seperti alat atau tolak ukur penilaian kinerja dan sistem pengawasan yang jelas.
"Kalau WFH kita sampai hari ini belum punya perangkat apapun untuk mengukur kinerja dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) yang diterapkan oleh pemerintah ampai hari ini," ungkap Heru.
Baca Juga: Heru Budi Sebut Hybrid Working Berlaku Mulai September
"Kemudian bagaimana instrument pengawasannya kan harus ada, mereka kerja atau gak kerja kan gak tahu," sambungnya.
Kendati demikian, kata Trubus, sebagai sebuah pemikiran dan wacana, WFH ini boleh saja. Namun perlu beberapa pertimbangan disertai kebijakan yang jelas.
"Tapi sebagai sebuah pemikiran, wacana boleh saja kalau memang dalam hal ini Presiden bisa merangkul semua untuk WFH, sampai swasta. Tapi kan kalau swasta pemerintah juga harus memberikan kompensasi kepada swasta," imbuhnya.
Baca Juga: Tekan Polusi Udara Jakarta, Pemprov DKI Minta Kendaraan 2400 CC Pakai Pertamax Turbo
"Gak bisa kebijakan itu seolah kamu harus turut patuh, yang ada paling cuman surat edaran atau imbauan. Kalau seperti itu ya gak efektif, karena gak konsekuensi yang harus didapat, ya masyarakat juga gak akan patuh," pungkas Trubus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026





