Sampah Tak Lagi ke TPST Bantargebang, Legislator Golkar Judistira Hermawan Kebutuhan BBM Truk Dihitung Ulang

AKURAT JAKARTA – Ketua Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, menyoroti penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional truk pengangkut sampah di Jakarta yang dinilai perlu diefisiensikan.
Judistira mengatakan, perubahan pola pengangkutan sampah setelah Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak lagi mengirimkan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang perlu diikuti dengan perhitungan ulang kebutuhan BBM.
"Dari BBM ini saya menyimpulkan bahwa bisa diefisiensi sebenarnya BBM ini. Karena yang berat itu mengirimkan sampah ke Bantar Gebang," ujar Judistira dalam Rapat Komisi D DPRD DKI Jakarta, beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Gempa M 5,6 Guncang Laut Selatan Bayah Banten, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Menurutnya, saat ini aktivitas truk pengangkut sampah tidak lagi melakukan perjalanan menuju Bantar Gebang seperti sebelumnya.
Dengan demikian, operasional truk semestinya lebih banyak berlangsung di dalam wilayah Jakarta.
"Sekarang sampahnya itu tidak kita kirimkan ke Bantar Gebang, tapi mestinya beroperasinya cukup di dalam kota DKI Jakarta," katanya.
Judistira meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menghitung kembali kebutuhan BBM berdasarkan perubahan aktivitas pengangkutan tersebut.
Anggota Komisi D itu menilai perhitungan itu penting untuk memastikan kebutuhan anggaran BBM tetap rasional dengan kondisi pengangkutan sampah saat ini.
"Ini harus dihitung betul Pak Kadis saya kira ya. Dan mudah-mudahan ini bisa ketemu angka-angka yang memang rasional dalam rangka kita penanganan sampah di Jakarta ini," ucapnya.
Di sisi lain, Judistira mengakui pengelolaan sampah di dalam wilayah Jakarta masih menghadapi keterbatasan kapasitas.
Menurutnya, fasilitas seperti RDF Rorotan, RDF Bantar Gebang, hingga TPS3R belum mampu menampung seluruh kebutuhan pengolahan sampah Jakarta.
Ia menyebut kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sekitar 5.000 ton sampah setiap hari harus dipikirkan pengelolaan dan lokasi pengolahannya di Jakarta.
"Kita harus memikirkan bagaimana 5.000 ton ini tiap hari diproduksi di Jakarta ini, kemudian nanti dikelola di mana, oleh siapa, jumlahnya berapa," tuturnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





