Kondisi Udara Jakarta Masih Buruk Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, Pemprov DKI Lanjutkan Penyemprotan Jalan

AKURAT JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta masih terus memantau secara ketat kondisi kualitas udara di ibu kota menyusul adanya sebaran abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov DKI berencana melanjutkan aksi penyemprotan jalan dan fasilitas umum guna meminimalkan dampak partikel abu di udara.
Staf Khusus (Stafsus) Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, menjelaskan bahwa kelanjutan penyemprotan fasilitas publik ini akan sangat bergantung pada hasil pemantauan kondisi udara di lapangan.
"Pembersihan abu di jalan dan fasilitas umum dengan cara dibasahi atau disemprot agar partikel tidak kembali terbang," kata Chico dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga: Legislator Golkar Judistira Hermawan Minta TPS Nagrak Jakut Jadi Role Model Penetaan TPS Liar Lain
Chico menambahkan, pembersihan dengan metode basah ini dinilai efektif agar abu vulkanik tidak kembali naik ke udara saat tertiup angin atau tergilas kendaraan.
"Hari ini sepertinya masih akan dilakukan (penyemprotan). Pagi ini kita lihat," sambungnya.
Langkah Responsif Pemprov DKI Jakarta
Selain penyemprotan jalan, Pemprov DKI Jakarta juga telah mengambil sejumlah kebijakan strategis untuk merespons dampak sebaran abu vulkanik ini.
Salah satu langkah cepat yang diambil adalah menerapkan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di seluruh sekolah di Jakarta demi melindungi kesehatan para siswa.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta juga diperintahkan untuk memperketat pemantauan kualitas udara.
Pemprov DKI terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai lembaga terkait seperti BMKG, Badan Geologi/PVMBG, BNPB, hingga BPBD. Masyarakat secara mandiri juga dapat mengecek pembaruan kualitas udara secara berkala melalui situs resmi udara.jakarta.go.id.
Baca Juga: OJK Sikat 951 Pinjol Ilegal, Selamatkan Rp 206 Miliar Uang Korban
Imbauan Gubernur Pramono Anung: Terapkan 5M
Menyikapi situasi ini, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengimbau agar seluruh warga tetap tenang namun waspada. Warga diminta disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M khusus abu vulkanik, yaitu:
Memakai masker saat terpaksa berada di luar ruangan.
Menutup pintu dan jendela serta sumber air bersih di rumah.
Membatasi aktivitas luar ruang jika tidak bersifat mendesak.
Membersihkan abu dengan cara dibasahi terlebih dahulu agar tidak beterbangan.
Memantau informasi perkembangan situasi hanya dari kanal resmi pemerintah.
"Gunakan masker KN95 atau N95 jika harus ke luar, lindungi mata, segera ke faskes jika ada sesak napas, iritasi mata, atau gejala pernapasan memburuk—terutama bagi anak, lansia, dan penderita asma atau PPOK," tambah Chico.
Baca Juga: Gara-Gara Abu Krakatau Harga Masker di Asemka Melonjak 2 Kali Lipat, Pemprov DKI Turun Tangan
Untuk mendukung imbauan ini, Pemprov DKI melalui Dinas Perhubungan (Dishub) juga menggelar aksi pembagian masker gratis di sejumlah titik ruang publik dan pusat kegiatan luar ruang.
Karakteristik Erupsi Gunung Anak Krakatau Berubah
Sebelumnya, sebaran abu vulkanik ini dipicu oleh erupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan terbaru, episode erupsi menerus yang sempat berlangsung selama 25 jam sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB akhirnya telah berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB.
Kendati episode menerus telah usai, Badan Geologi melaporkan adanya perubahan karakteristik pada aktivitas Gunung Anak Krakatau.
"Tiga kali erupsi strombolian terjadi setelah episode erupsi menerus berakhir," tulis Badan Geologi melalui akun resmi Threads @badan.geologi, Senin (7/9/2026).
Sebagai informasi, letusan strombolian merupakan jenis letusan gunung berapi yang memiliki daya ledak relatif ringan.
Baca Juga: Bandara Soetta hingga Husein Sastranegara Kembali Beroperasi Usai Ditutup Erupsi Anak Krakatau
Walau tergolong ringan, aktivitas letusan tipe ini dikenal dapat berlangsung dalam durasi yang sangat lama karena sistem erupsinya mampu mengatur ulang dirinya sendiri secara berulang kali.
Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan pemantauan ketat terhadap kualitas udara di wilayah terdampak seperti Jakarta masih menjadi prioritas utama. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!





