Legislator Golkar Andri Santosa Soroti Kekacauan Data Desil, Minta Pemprov DKI Perbarui Basis Data Warga Miskin

AKURAT JAKARTA – Sekretaris Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta, Andri Santosa, menyoroti masih carut-marutnya data desil yang menjadi acuan dalam penyaluran berbagai program bantuan sosial di Jakarta.
Ia meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera memperbarui basis data tersebut dengan melibatkan Badan Pusat Statistik (BPS) agar bantuan lebih tepat sasaran.
Hal itu disampaikan Andri dalam rapat kerja Komisi B DPRD DKI Jakarta terkait Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD (P2APBD) Tahun 2025, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, persoalan data desil masih sering ditemukan di lapangan, di mana warga yang tergolong tidak mampu justru tercatat pada kelompok desil yang lebih tinggi sehingga berpotensi tidak memperoleh bantuan yang semestinya diterima.
"Apakah data yang ditanyakan teman-teman tadi itu sudah dimutakhirkan, sudah sesuai dengan BPS? Karena selama ini, selain mungkin tadi yang Bu Eli sampaikan tentang data anak sekolah dan lain-lain, ternyata masalah desil ini juga masih carut-marut di lapangan," ujar Andri.
Ia menilai persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius karena menyangkut ketepatan sasaran berbagai program pemerintah yang menggunakan data desil sebagai dasar penentuan penerima manfaat.
Menurut Andri, masih banyak kasus warga yang secara ekonomi tergolong tidak mampu, namun dalam pendataan justru masuk ke kelompok desil di atas lima.
"Desil ini menjadi penyebab utama, yang mereka kemampuannya tidak mampu namun ternyata dicatat desilnya lebih dari lima. Jadi rumah petakan... banyaklah prosedur di mana terkait desil ini sangat serius," ujarnya.
Andri meminta Dinas terkait memperkuat koordinasi dengan BPS untuk melakukan pemutakhiran data secara berkala. Ia menilai akurasi data sangat bergantung pada proses verifikasi di lapangan.
Namun demikian, ia juga menyoroti keterbatasan personel BPS yang dinilai menjadi salah satu kendala dalam proses pembaruan data.
"Perlu dimutakhirkan melalui BPS. Karena BPS ini katanya petugasnya itu sangat minim sekali yang turun ke lapangan. Jadi petugas BPS ini kurang personel sehingga mereka dalam melakukan verifikasi ke lapangan itu juga kurang relate," katanya.
Oleh karena itu, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta itu mendorong adanya konsolidasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan BPS agar proses pendataan masyarakat dapat dilakukan secara lebih akurat dan mutakhir.
"Jadi perlu adanya memang dari Dinas untuk berkonsolidasi dengan BPS supaya mereka dalam menentukan desil ini bisa dimutakhirkan atau diperbarui," tegasnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






