‘Dua Duanya Membunuh Perekonomian!’ Menteri Purbaya Tuding Kebijakan Fiskal dan Moneter Sebelumnya Biang Keladi Kejatuhan Ekonomi

AKURAT JAKARTA - Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Keuangan Purbaya yang secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi yang berlaku sebelum masa jabatannya.
Dalam sebuah wawancara khusus pada Jumat (31/10/2015), Purbaya menyebut bahwa jika tidak ada perubahan drastis, maka ekonomi Indonesia akan menghadapi risiko kejatuhan yang serius. Ia menuding adanya mismanagement pada instrumen-instrumen kunci yang seharusnya menjadi fondasi stabilitas ekonomi nasional.
Dilansir dari kanal YouTube CNN Indonesia, Purbaya tidak segan menggunakan diksi yang sangat keras untuk menggambarkan dampak dari kebijakan ekonomi sebelumnya. Ia menyebut bahwa perlambatan ekonomi yang terjadi bukanlah akibat dari satu sektor saja, melainkan hasil dari kombinasi fatal dua kebijakan utama: fiskal dan moneter.
Ia menyatakan, “Dan kalau kebijakannya enggak dirubah ya pasti jatuhnya ekonomi. Kenapa? Karena fiskal dan moneter dua-duanya membunuh perekonomian.” dikutip pada (05/11/2025).
Pernyataan tersebut bukan hanya menjadi sorotan karena nada blak-blakannya, tetapi juga karena mengindikasikan adanya ketidakselarasan strategis dalam pengelolaan anggaran negara dan pengendalian suku bunga serta likuiditas.
Purbaya menyoroti bahwa dua instrumen vital ini seharusnya saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Ketika keduanya justru menjadi beban bagi perekonomian, maka dampaknya akan terasa langsung di sektor riil, mulai dari daya beli masyarakat hingga iklim investasi.
Kritik ini membuka ruang diskusi yang lebih dalam mengenai efektivitas dan koordinasi kebijakan ekonomi nasional. Purbaya seolah mengajak publik untuk melihat kembali bagaimana kebijakan fiskal dan moneter selama ini dijalankan.
Apakah keduanya benar-benar dirancang untuk saling melengkapi, atau justru berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang jelas? Dalam konteks ini, pernyataan Purbaya bisa menjadi titik awal evaluasi menyeluruh terhadap strategi ekonomi Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, pernyataan sekeras ini berpotensi memicu reaksi dari para pemangku kebijakan di periode sebelumnya. Namun, di sisi lain, kritik terbuka seperti ini juga menunjukkan keberanian dan komitmen Purbaya untuk mendorong perubahan.
Ia tidak hanya mengidentifikasi masalah, tetapi juga menegaskan urgensi untuk melakukan perombakan kebijakan secara drastis. Baginya, stagnasi bukanlah pilihan. Jika tidak ada langkah konkret, maka kejatuhan ekonomi tinggal menunggu waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya





