Jakarta

Revolusi Karakter, Menag Nasaruddin Umar Dorong Lembaga Pendidikan Adopsi Kurikulum Cinta

Yusuf Doank | 10 Mei 2026, 10:39 WIB
Revolusi Karakter, Menag Nasaruddin Umar Dorong Lembaga Pendidikan Adopsi Kurikulum Cinta
Menag Nasaruddin Umar

AKURAT JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh institusi pendidikan di Indonesia untuk mulai mengintegrasikan pendekatan ekoteologi melalui Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Inisiatif ini dipandang sebagai solusi jitu dalam membangun ekosistem sosial yang tangguh sekaligus menjaga kelestarian alam.

Menag menegaskan bahwa cinta harus menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa, melampaui pendekatan formalitas semata.

Baca Juga: Prediksi Skor West Ham vs Arsenal di Premier League, 10 Mei 2026: The Gunners Selangkah Lagi Menuju Gelar

Nasaruddin mengungkapkan kekagumannya atas testimoni yang diberikan oleh sekitar 305 ribu guru agama di seluruh Indonesia yang telah menguji coba kurikulum ini. Hasilnya, terjadi pergeseran perilaku yang signifikan pada peserta didik.

"Saya merinding mendengar cerita para guru dari Sabang sampai Merauke. Sejak Kurikulum Cinta diterapkan, anak-anak kita mulai menyayangi binatang dan tumbuh-tumbuhan. Selama ini alam seringkali hanya dianggap sebagai objek, namun sekarang mereka memperlakukannya dengan kasih sayang," ujar Nasaruddin saat acara Jalan Santai Kerukunan di Katedral Jakarta, Sabtu (9/5),

Kurikulum Berbasis Cinta bukan sekadar teori, melainkan instrumen pembentukan karakter yang berfokus pada lima pilar utama, atau yang disebut sebagai Panca Cinta:

Cinta kepada Tuhan dan Rasul: Memperkuat sisi spiritualitas.

Cinta Diri dan Sesama: Membangun empati dan penghargaan antarmanusia.

Cinta Alam Lingkungan: Menumbuhkan kesadaran ekologis sejak dini.

Cinta Ilmu: Mendorong haus akan pengetahuan.

Cinta Tanah Air: Menanamkan jiwa patriotisme yang tulus.

Selama satu tahun masa uji coba, Kemenag mencatat perubahan atmosfer belajar yang drastis. Ruang kelas yang semula kaku kini bertransformasi menjadi "taman belajar" yang membahagiakan.

"Kita ingin menciptakan lingkungan sekolah yang mampu memerdekakan jiwa anak-anak. Jika cinta sudah menjadi basisnya, maka pendidikan bukan lagi beban, melainkan proses yang membahagiakan," tambah Menag.

Kementerian Agama berharap kesuksesan KBC ini bisa menjadi model bagi dunia internasional bahwa Indonesia memiliki metode unik dalam mencetak generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga lembut secara hati.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y