Catat! Hujan Meteor hingga Blue Moon Langka Bakal Hiasi Langit Mei 2026

AKURAT JAKARTA – Pencinta astronomi di Indonesia akan dimanjakan dengan sederet fenomena langit spektakuler sepanjang Mei 2026.
Mulai dari puncak hujan meteor Eta Aquarids hingga kemunculan fenomena langka Blue Moon.
Berbagai peristiwa antariksa ini diprediksi dapat disaksikan dengan mata telanjang jika kondisi cuaca mendukung.
Baca Juga: Tegas Terukur, Dua Rudal Iran Hantam Kapal Perang Amerika Serikat
Berdasarkan data dari NASA dan badan astronomi internasional, rangkaian fenomena ini menjadi momen penting bagi pengamat langit untuk melihat keindahan tata surya tanpa alat bantu khusus, asalkan jauh dari polusi cahaya perkotaan.
1. Puncak Hujan Meteor Eta Aquarids
Salah satu atraksi utama bulan ini adalah hujan meteor Eta Aquarids yang mencapai puncaknya pada Selasa (5/5/2026) malam hingga Rabu (6/5/2026) dini hari.
Fenomena ini berasal dari partikel debu yang ditinggalkan oleh Komet Halley yang legendaris.
Pada kondisi langit ideal, meteor ini mampu menghasilkan 50 hingga 60 lintasan cahaya per jam dengan kecepatan mencapai 64 kilometer per detik.
Masyarakat disarankan mengamati langit ke arah timur setelah tengah malam untuk mendapatkan pemandangan terbaik.
2. Konjungsi Venus dan Bulan Baru
Pada pertengahan bulan, tepatnya 16 Mei 2026, akan terjadi fase Bulan Baru. Momen ini merupakan waktu terbaik bagi para fotografer langit untuk memotret objek redup seperti galaksi dan gugus bintang karena minimnya gangguan cahaya bulan.
Tak berselang lama, pada 18 Mei, fenomena konjungsi akan mempertemukan Bulan Sabit dengan planet Venus.
Planet yang dijuluki "Bintang Senja" ini akan tampak bersinar terang berdampingan dengan Bulan sesaat setelah Matahari terbenam, menciptakan pemandangan estetis di cakrawala barat.
3. Fenomena Langka Blue Moon
Mei 2026 akan ditutup dengan peristiwa yang sangat jarang terjadi, yakni Blue Moon pada 31 Mei mendatang.
Fenomena ini merupakan sebutan untuk purnama kedua yang jatuh dalam satu bulan kalender yang sama. Meski menyandang nama "Blue", tampilan fisik bulan akan tetap berwarna seperti purnama pada umumnya.
Istilah Blue Moon sendiri menjadi asal-usul ungkapan "once in a blue moon" yang merujuk pada peristiwa yang sangat jarang terjadi, karena siklus ini biasanya hanya berulang setiap beberapa tahun sekali.
Untuk menikmati rangkaian fenomena ini secara optimal, masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang terbuka dan minim hambatan awan tebal.
Penggunaan aplikasi peta bintang digital juga disarankan untuk mempermudah identifikasi posisi rasi bintang di langit malam.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya



