Ketegangan Memuncak di Timur Tengah! Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Terancam Meroket

AKURAT JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis. Iran dilaporkan resmi menutup Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia, menyusul serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Langkah drastis ini memicu reaksi berantai di pasar energi global. Harga minyak diprediksi bakal meroket tajam.
Sejumlah pemilik kapal tanker, raksasa minyak, dan perusahaan perdagangan internasional telah memutuskan untuk menangguhkan seluruh pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair (LNG) melalui jalur tersebut.
Baca Juga: Prediksi Skor Paris FC vs Nice di Ligue 1, 1 Maret 2026: Era Baru Kombouare Diuji Les Aiglons
Berdasarkan citra satelit terbaru, tumpukan kapal tanker terlihat di pelabuhan-pelabuhan besar seperti Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Kapal-kapal tersebut memilih untuk tidak bergerak menghindari risiko keamanan di Selat Hormuz.
Seorang pejabat dari misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, mengungkapkan bahwa Garda Revolusi Iran telah mengirimkan transmisi VHF kepada kapal-kapal di area tersebut.
"Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz," bunyi pernyataan tegas dari pihak Iran, sebagaimana dikutip dari Reuters (1/3/2026).
Meskipun Angkatan Laut Inggris menyatakan perintah tersebut tidak mengikat secara hukum, asosiasi kapal tanker INTERTANKO memperingatkan bahwa Angkatan Laut AS tidak dapat menjamin keselamatan pelayaran di seluruh wilayah Teluk Persia hingga Laut Arab Utara.
Penutupan ini diprediksi akan menghantam ekonomi global lebih keras dibandingkan konflik-konflik sebelumnya.
Baca Juga: Waspadai Dampak Perang Iran vs Israel, Gubernur Pramono Antisipasi Potensi Kenaikan Harga di Jakarta
Sebagai perbandingan, Selat Hormuz menyumbang sekitar 31% aliran minyak dunia via laut, dengan volume mencapai 13 juta barel per hari pada tahun 2025.
Florian Weidinger, CIO di Santa Lucia Asset Management, menekankan bahwa dampak ini jauh lebih besar daripada kasus penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela.
"Venezuela adalah kisah produksi. Iran adalah kisah tentang titik hambatan (choke point)," ujar Kenneth Goh dari UOB Kay Hian.
Para analis memprediksi Senin (2/3/2026) akan menjadi hari yang penuh gejolak di pasar modal. Ekonom Utama Natixis, Alicia García-Herrero, memprediksi harga minyak dunia akan melonjak 5% hingga 10%.
Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran. Jalur ini merupakan satu-satunya akses keluar masuk bagi produsen minyak raksasa seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, Kuwait dan Qatar.
Dunia kini menanti bagaimana respons komunitas internasional terhadap penutupan jalur yang menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak global ini. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








