Guru dan Tantangan Menciptakan Sekolah yang Aman di Era Media Sosial

AKURAT JAKARTA - Guru selama ini kerap dipandang sebagai sosok yang bertugas menyampaikan pelajaran kepada siswa.
Namun, peran tersebut ternyata tidak berhenti ketika materi di kelas selesai.
Cara guru membangun interaksi di sekolah juga dapat ikut membentuk perilaku dan karakter siswa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyebut guru memiliki dua peran yang tidak dapat dipisahkan, yakni sebagai agent of learning dan agent of civilization.
Sebagai agen pembelajaran, guru menjadi figur yang mentransfer ilmu, nilai, dan keterampilan kepada siswa.
Sementara sebagai agen peradaban, guru memiliki peran lebih luas dalam membentuk lingkungan yang membantu siswa belajar tentang toleransi, keterbukaan, dan kerja sama.
"Substansi pendidikan adalah membangun peradaban dan karakter, sehingga manusia memiliki sikap toleran, terbuka, serta siap bekerja sama," tuturnya dalam Webinar Internasional Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, Jumat (2/10/2026).
Menurut Mu'ti, sekolah dapat menjadi meeting point sekaligus melting point, tempat guru dan siswa bertemu serta berinteraksi secara edukatif.
Lingkungan yang dibentuk bukan hanya ruang kelas atau fasilitas sekolah, tetapi juga mencakup lingkungan sosial, spiritual, hingga digital.
Hal ini menjadi penting karena perilaku siswa tidak terbentuk hanya dari apa yang mereka pelajari di sekolah.
Baca Juga: Beasiswa LPDP Jakarta 2027 Disiapkan, Biaya Sebelum Tes Jadi Sorotan
Mu'ti menyoroti pengaruh keluarga, masyarakat, media massa, dan media sosial terhadap perilaku anak, termasuk ketika mereka melakukan tindakan kekerasan.
"Banyak anak yang berperilaku kekerasan biasanya terpengaruh oleh lingkungan keluarga, masyarakat, atau apa yang mereka tonton di media massa maupun media sosial," ujarnya.
Karena itu, guru dinilai dapat berperan dalam membangun apa yang disebut sebagai hidden curriculum.
Siswa tidak hanya belajar dari buku atau materi pelajaran, tetapi juga dari pengalaman dan kebiasaan yang mereka temui setiap hari di sekolah.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebijakan pembelajaran mendalam atau deep learning.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







