Niat Menjaga Kesehatan Malah Bisa Jadi Bumerang, Kenali Risiko Olahraga Saat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Mengintai

AKURAT JAKARTA - Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat aktivitas sehari-hari masyarakat di sejumlah wilayah perlu disesuaikan, termasuk kebiasaan berolahraga di luar ruangan.
Aktivitas yang biasanya dianggap menyehatkan justru dapat meningkatkan risiko ketika udara mengandung abu vulkanik.
Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada status Level III atau Siaga.
Dampak abu vulkanik turut menjadi perhatian karena penyebarannya dapat mencapai wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Partikel abu yang berukuran sangat kecil dapat terhirup dan memicu batuk, sesak napas, ISPA, iritasi tenggorokan, hingga memperburuk kondisi asma.
Situasi tersebut menjadi lebih penting diperhatikan oleh masyarakat yang terbiasa melakukan olahraga outdoor seperti jogging, bersepeda, atau aktivitas fisik lainnya.
Saat berolahraga, seseorang cenderung bernapas lebih cepat dan lebih dalam.
Jika dilakukan di tengah kondisi udara yang mengandung abu vulkanik, jumlah partikel yang masuk ke saluran pernapasan berpotensi menjadi lebih banyak.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, Tirta Mandira, pun mengingatkan masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik, termasuk Jabodetabek dan Jawa Barat, untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
Baca Juga: Tahir Solo Museum Baru Dibuka, Temukan Robot Dinosaurus hingga Rover Bulan Di Sana
“Walaupun abunya tipis, itu harus memakai masker,” ujar dr Tirta dalam unggahannya di Instagram, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, abu yang terlihat tipis tetap tidak boleh dianggap sepele.
Paparan yang berulang dapat memicu reaksi alergi dan gangguan pada saluran pernapasan bagian atas.
Dalam kondisi lebih berat, paparan tersebut bahkan dapat menyebabkan bronkitis.
Karena itu, bagi kamu yang memiliki kebiasaan berolahraga di luar ruangan, sementara waktu mengalihkan aktivitas ke dalam ruangan bisa menjadi pilihan yang lebih aman selama kondisi abu vulkanik masih berdampak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







