Jakarta

Anak Jadi Kelompok Rentan Saat Gunung Anak Krakatau Erupsi, Begini Cara Melindunginya

Anggerhana Denni Rahmawati | 7 September 2026, 10:30 WIB
Anak Jadi Kelompok Rentan Saat Gunung Anak Krakatau Erupsi, Begini Cara Melindunginya
Cara melindungi anak dari abu Gunung Anak Krakatau.

AKURAT JAKARTA - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung sejak 4 September 2026 membuat orangtua perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal.

Bagi keluarga yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik, menjaga anak tetap aman bukan hanya soal membatasi aktivitas di luar rumah, tetapi juga memastikan udara di dalam rumah tidak ikut tercemar.

Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada status Siaga atau Level III.

Sebaran abu vulkanik dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.

Badan Geologi Kementerian ESDM juga menyebut aktivitas erupsi belum menunjukkan tanda-tanda menurun.

Situasi ini menjadi perhatian karena anak termasuk kelompok yang rentan terhadap paparan abu vulkanik.

Material yang keluar dari erupsi bukan sekadar debu biasa.

Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menegaskan bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas.

"Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa dan masa depan anak-anak kita. Di tengah ancaman abu vulkanik yang nyata, kita wajib mengutamakan perlindungan mereka dengan tindakan preventif yang tegas dan cepat," ujar dr. Piprim.

Baca Juga: Bocor! Desain Generasi Terbaru Honda Supra X Cross 125 Tampil Makin Brutal ala CRF, Kapan Masuk Indonesia?

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan paparan abu vulkanik dapat menyebabkan sejumlah gangguan pernapasan.

Anak dapat mengalami bersin, batuk, pilek hingga sesak napas.

Risiko tersebut dapat menjadi lebih besar pada anak yang memiliki asma, alergi, penyakit paru kronis, bayi dengan displasia bronkopulmonal, maupun anak dengan penyakit jantung bawaan.

Karena itu, langkah perlindungan perlu dimulai dari rumah.

IDAI merekomendasikan agar anak diungsikan dari wilayah terdampak jika memungkinkan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.