Pantai Carita Masih Ramai Saat Anak Krakatau Erupsi, Ada Hal yang Tak Boleh Diabaikan Wisatawan

AKURAT JAKARTA - Pada Sabtu (5/9/2026) siang, aktivitas wisata di Pantai Carita dan sejumlah destinasi pantai di sekitarnya masih berlangsung.
Pengunjung terlihat melakukan berbagai kegiatan, termasuk beraktivitas di kawasan pantai maupun perairan.
Situasi tersebut terjadi setelah warga di wilayah pesisir sebelumnya merasakan getaran yang diduga berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Aktivitas erupsi gunung tersebut mulai terpantau pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 22.30 WIB dan terus dipantau hingga Sabtu pagi.
Petugas Balawista Kabupaten Pandeglang, Acong, menyebut kondisi di Pantai Carita masih aman dan terkendali.
"Situasi dan kondisi di Pantai Carita cukup ramai yang beraktivitas. Ada wisatawan yang sedang beraktivitas di air maupun di pantai. Situasi dan kondisi aman, terkendali, dan terpantau," kata Acong kepada wartawan, Sabtu (5/9/2026).
Namun, kondisi yang masih normal tersebut tidak berarti kewaspadaan dapat diturunkan.
Balawista Nasional mencatat aktivitas Gunung Anak Krakatau memiliki implikasi terhadap keselamatan wisatawan di kawasan pesisir Banten, terutama destinasi wisata pantai dan wisata bahari di sekitar Selat Sunda.
Apalagi, berdasarkan informasi Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau masih berada pada level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.
Dalam status tersebut, masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Baca Juga: Status PPPK Paruh Waktu Mulai Berubah, 1.147 Pegawai Kini Jadi Penuh Waktu
Karena itu, kawasan seperti Pantai Anyer, Pantai Carita, Labuan, Tanjung Lesung, kawasan wisata bahari dan pulau-pulau di Selat Sunda hingga destinasi wisata di Lampung Selatan diminta meningkatkan kewaspadaan.
Meski demikian, sampai laporan situasi tersebut dibuat, Balawista Nasional menyatakan belum menetapkan adanya dampak aktivitas erupsi terhadap lingkungan masyarakat maupun destinasi wisata.
Yang menjadi perhatian berikutnya adalah bagaimana pengelola wisata menghadapi kemungkinan perubahan situasi secara cepat.
Balawista meminta jalur evakuasi, titik kumpul, komunikasi darurat, perlengkapan pertolongan pertama hingga prosedur penyelamatan dipastikan siap digunakan.
Operator wisata bahari juga perlu memperhatikan informasi resmi mengenai kondisi perairan dan aktivitas vulkanik sebelum menjalankan kegiatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






