Dua Mahasiswa ITB Buktikan Kemampuan di Kampus Top China, Presentasi Risetnya Tuai Apresiasi

AKURAT JAKARTA - Belajar di luar negeri bukan hanya soal merasakan suasana kampus yang berbeda atau memperluas pergaulan internasional.
Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman tersebut juga menjadi ajang untuk membuktikan kemampuan akademik di hadapan para ilmuwan dan profesor dari universitas kelas dunia.
Pengalaman itulah yang dirasakan dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Thaufik Widjaya dan Mochammad Zakky Rayhan Zahrandany.
Setelah mengikuti program pertukaran mahasiswa selama lima bulan di Central South University (CSU), China, keduanya mendapat kesempatan mempresentasikan hasil penelitian di depan jajaran profesor kampus tersebut.
Momen tersebut menjadi salah satu tahap penting selama mereka menjalani program akademik di School of Metallurgy and Environment CSU.
Presentasi yang dilakukan bukan sekadar pemaparan tugas biasa, melainkan menjadi bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas penelitian yang telah mereka kerjakan selama berada di China.
Sidang akademik tersebut berlangsung di Gedung Jingui, Kampus Xiaoxiang, Changsha, pada 24 Juli 2026.
Dalam kegiatan itu, Thaufik dan Zakky memaparkan hasil riset di bidang metalurgi yang berkaitan dengan pengembangan material dan proses pengolahan logam.
Thaufik mempresentasikan penelitian berjudul "Fundamental and Technological Research on Self-Promoted Desulfurization of Complex Lead Sulfate-Calcium Sulfate Materials at 750 °C under Air Atmosphere."
Sementara itu, Zakky menyampaikan hasil riset bertajuk "Fundamental Research on a Novel Pyrometallurgical Process for Complex Tin-Lead Secondary Materials: A Regulation Strategy of Stepwise Fluxing and Gradual Reduction."
Baca Juga: Banyak Orang Takut ke Psikiater Pakai BPJS, Padahal Sesi Pertamanya Tidak Seseram yang Dibayangkan
=====
Keduanya menjelaskan metodologi, hasil penelitian, hingga analisis ilmiah secara sistematis di hadapan panel akademik CSU.
Presentasi tersebut dihadiri sejumlah profesor, di antaranya Ketua Kelompok Pengembangan Komite Pengawasan Pendidikan Sarjana CSU Prof Qin Yihong, Wakil Dekan School of Metallurgy and Environment Prof Wang Qinmeng, serta perwakilan Kantor Urusan Akademik, He Jiamin.
Selama proses sidang, kedua mahasiswa ITB itu memperoleh apresiasi positif dari para panelis atas penyampaian materi yang runtut dan argumentasi ilmiah yang mereka bangun selama presentasi.
Pendamping mahasiswa dari ITB, D Sc (Tech.) Imam Santoso, menilai pengalaman tersebut memberikan manfaat yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar menyelesaikan program pertukaran mahasiswa.
"Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kemampuan riset mahasiswa dan menghasilkan tugas akhir serta capaian penelitian kolaboratif, tetapi juga membentuk kemandirian, wawasan global, dan kemampuan bekerja sama lintas budaya," ujarnya.
Setelah menyelesaikan presentasi, Thaufik dan Zakky menerima sertifikat penyelesaian program pertukaran mahasiswa yang diserahkan langsung oleh Prof Wang Qinmeng dan Prof Qin Yihong.
Menurut Prof Qin Yihong, kolaborasi antara ITB dan CSU memiliki nilai strategis karena mempertemukan keunggulan akademik dan platform penelitian dari dua perguruan tinggi yang memiliki kekuatan di bidang teknik dan sains.
Keberhasilan kedua mahasiswa tersebut juga menjadi gambaran bahwa program pertukaran mahasiswa kini tidak lagi hanya berorientasi pada pengalaman belajar di luar negeri.
Program semacam ini semakin menekankan keterlibatan mahasiswa dalam riset internasional, diskusi ilmiah, hingga kolaborasi lintas negara.
Central South University sendiri dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi unggulan di China.
Baca Juga: Tak Menyerah pada Keterbatasan, Anak Petani Ini Rampungkan Kuliah di IPB dengan IPK 3,99
=====
Dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) World University Rankings 2026, kampus tersebut berada pada kelompok peringkat 251–300 dunia.
Sebelumnya, CSU juga pernah menempati posisi ke-20 dunia versi Scimago Institutions Rankings 2024.
Kerja sama antara ITB dan CSU juga terus berkembang.
Hingga kini, lebih dari 100 mahasiswa magister dan doktor asal Indonesia telah mengikuti berbagai program akademik di universitas tersebut.
Kisah Thaufik dan Zakky menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di lingkungan akademik internasasional.
Tidak hanya datang sebagai peserta pertukaran, mereka juga dipercaya mempresentasikan hasil penelitian di hadapan para profesor, sekaligus membawa nama perguruan tinggi Indonesia dalam forum ilmiah bertaraf global. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya





