Fenomena Helper's High, Alasan Guru SLB Tetap Tersenyum di Tengah Segala Keterbatasan

AKURAT JAKARTA - Banyak orang beranggapan bahwa besarnya gaji menjadi faktor utama seseorang bertahan dalam sebuah pekerjaan.
Namun, anggapan tersebut tidak selalu berlaku.
Ada profesi yang membuat seseorang tetap memilih mengabdi karena merasa pekerjaannya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh penghasilan setiap bulan.
Kondisi itu tergambar dari kisah para guru di SLB Karya Bhakti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung.
Di tengah keterbatasan fasilitas, jumlah siswa yang sedikit, hingga kesejahteraan yang masih menjadi tantangan, mereka tetap menjalankan tugas mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus dengan penuh dedikasi.
Dalam psikologi positif, kondisi tersebut dikenal sebagai meaningful work, yaitu ketika seseorang memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang bernilai dan berdampak bagi kehidupan orang lain.
Perasaan inilah yang sering kali menjadi sumber motivasi intrinsik sehingga seseorang mampu bertahan meski menghadapi berbagai kesulitan.
SLB Karya Bhakti saat ini hanya memiliki 16 siswa.
Sebagian besar merupakan anak dengan autisme, down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, hingga disabilitas ganda yang membutuhkan pendampingan lebih intensif dibandingkan sekolah pada umumnya.
Salah seorang guru SLB Karya Bhakti, Dedi Gusmawan, mengatakan bahwa hingga kini sekolah masih berusaha bertahan meski situasinya tidak mudah, terutama karena semakin sulit mendapatkan peserta didik baru.
Menurut Dedi, kondisi lingkungan dan bangunan sekolah menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan sekolah.
Ia menjelaskan bahwa kondisi fisik sekolah sering kali memberikan kesan kurang menarik sehingga berdampak pada rendahnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di sana.
Selain persoalan infrastruktur, sekolah juga masih menghadapi kendala terkait status kepemilikan lahan yang hingga kini belum memperoleh kepastian.
Meski begitu, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan berkat dukungan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Dedi menjelaskan bahwa operasional sekolah selama ini masih mengandalkan dana BOS.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!






