Jakarta

Fenomena Helper's High, Alasan Guru SLB Tetap Tersenyum di Tengah Segala Keterbatasan

Anggerhana Denni Rahmawati | 29 Juli 2026, 18:15 WIB
Fenomena Helper's High, Alasan Guru SLB Tetap Tersenyum di Tengah Segala Keterbatasan
Salah satu kegiatan di SLB Karya Bhakti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. (Instagram / @infobandungkota)

AKURAT JAKARTA - Banyak orang beranggapan bahwa besarnya gaji menjadi faktor utama seseorang bertahan dalam sebuah pekerjaan.

Namun, anggapan tersebut tidak selalu berlaku.

Ada profesi yang membuat seseorang tetap memilih mengabdi karena merasa pekerjaannya memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh penghasilan setiap bulan.

Kondisi itu tergambar dari kisah para guru di SLB Karya Bhakti, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung.

Di tengah keterbatasan fasilitas, jumlah siswa yang sedikit, hingga kesejahteraan yang masih menjadi tantangan, mereka tetap menjalankan tugas mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus dengan penuh dedikasi.

Dalam psikologi positif, kondisi tersebut dikenal sebagai meaningful work, yaitu ketika seseorang memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang bernilai dan berdampak bagi kehidupan orang lain.

Perasaan inilah yang sering kali menjadi sumber motivasi intrinsik sehingga seseorang mampu bertahan meski menghadapi berbagai kesulitan.

SLB Karya Bhakti saat ini hanya memiliki 16 siswa.

Sebagian besar merupakan anak dengan autisme, down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, hingga disabilitas ganda yang membutuhkan pendampingan lebih intensif dibandingkan sekolah pada umumnya.

Salah seorang guru SLB Karya Bhakti, Dedi Gusmawan, mengatakan bahwa hingga kini sekolah masih berusaha bertahan meski situasinya tidak mudah, terutama karena semakin sulit mendapatkan peserta didik baru.

Baca Juga: Bukan Orang Dalam, Naraya Mahasiswa UPN Veteran Tembus Pertamina Sebelum Wisuda Lewat Talent Scouting

Menurut Dedi, kondisi lingkungan dan bangunan sekolah menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan sekolah.

Ia menjelaskan bahwa kondisi fisik sekolah sering kali memberikan kesan kurang menarik sehingga berdampak pada rendahnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak di sana.

Selain persoalan infrastruktur, sekolah juga masih menghadapi kendala terkait status kepemilikan lahan yang hingga kini belum memperoleh kepastian.

Meski begitu, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan berkat dukungan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dedi menjelaskan bahwa operasional sekolah selama ini masih mengandalkan dana BOS.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.