Jakarta

252 Siswa di Cakung Keracunan MBG, Dinkes DKI Ungkap Sejumlah Pelanggaran oleh SPPG Pulogebang

Laode Akbar | 14 Mei 2026, 14:36 WIB
252 Siswa di Cakung Keracunan MBG, Dinkes DKI Ungkap Sejumlah Pelanggaran oleh SPPG Pulogebang
Ilustrasi - Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

AKURAT JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mengungkapkan penyebab 252 siswa di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pulogebang.

Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi lapangan menunjukkan adanya sejumlah pelanggaran terhadap prinsip higiene dan sanitasi pangan.

"Terdapat ketidaksesuaian pada penerapan higiene dan sanitasi pada aspek tempat, penjamah pangan, serta handling bahan dan peralatan, sehingga meningkatkan risiko terjadinya cemaran terhadap pangan," ujar Ani dalam keterangan resminya, Kamis (14/5/2026).

Baca Juga: Jaehyun NCT Gelar Fancon Perdana "Mono" di Jakarta Juni 2026, Cek Harga Tiket dan Jadwal Penjualannya!

Menurutnya, hasil laboratorium menemukan cemaran mikrobiologi pada pangan siap saji yang dikonsumsi para siswa.

Berdasarkan pola temuan tersebut, Dinkes menyimpulkan bahwa keracunan kemungkinan besar dipicu oleh kombinasi beberapa faktor.

Faktor utama yang ditemukan adalah praktik time-temperature abuse, yakni makanan matang dibiarkan terlalu lama sebelum dikonsumsi.

"Terjadinya time-temperature abuse, yaitu jarak waktu antara makanan matang hingga dikonsumsi melebihi batas aman (>4 jam) akibat proses pengolahan dimulai terlalu dini," tuturnya.

Selain itu, lanjut Ani, menu yang disajikan berupa bakmi Jawa dan pangsit tahu berkuah tergolong makanan berisiko tinggi karena mudah rusak jika tidak disimpan pada suhu yang tepat.

Baca Juga: Pesaing SUV Listrik Lain Dibikin Pusing! BYD Atto 2: Tenaga 177 PS, Interior Mewah, dan Harga Terjangkau Siap Dominasi Pasar Otomotif 2026!

Investigasi juga menemukan dugaan penggunaan bahan pangan yang kualitasnya telah menurun, khususnya tahu yang diterima dalam kondisi asam.

Di sisi lain, proses pengolahan mie basah tidak melalui tahap perebusan, sehingga diduga tidak mencapai suhu yang cukup untuk menekan jumlah mikroorganisme.

"Pangan matang juga diduga mengalami rekontaminasi, ditambah sanitasi yang kurang optimal selama proses pengolahan," kata Ani.

Dinkes DKI menegaskan, hasil investigasi ini menjadi dasar untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional di SPPG Pulogebang, agar kejadian serupa tidak terulang.

Baca Juga: Gebrakan John Herdman Menuju Piala Asia 2027: Naturalisasi 5 Pemain Diaspora, Siapa Saja? Ini Bocoran Nama-Namanya

Diketahui, Ani mengungkapkan SPPG Pulo Gebang belum memiliki SLHS. Meski begitu, menurutnya, dapur tersebut masih berada dalam masa tenggang pengurusan sertifikat.

SPPG Pulo Gebang diketahui mulai beroperasi sejak 30 Maret 2026. Sesuai ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN), setiap SPPG diberi waktu maksimal tiga bulan sejak mulai beroperasi untuk mengurus sertifikat higiene sanitasi.

"SPPG Pulo Gebang masih dalam proses. Kami sudah melakukan visitasi dan penjamah makanannya dijadwalkan mengikuti pelatihan pada 13 Mei," kata Ani. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.