Jakarta

Pedagang Minuman Dingin Tak Persoalkan Rencana Modifikasi Cuaca, Sebut Daya Beli Lebih Berpengaruh

Laode Akbar | 30 Juli 2026, 18:21 WIB
Pedagang Minuman Dingin Tak Persoalkan Rencana Modifikasi Cuaca, Sebut Daya Beli Lebih Berpengaruh
Salah satu pedagang es jus buah di kawasan Stasiun Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat (Laode/Akurat Jakarta)

AKURAT JAKARTA – Rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di tengah musim kemarau tidak menjadi persoalan bagi pedagang minuman dingin.

Mereka menilai kondisi ekonomi masyarakat lebih berpengaruh terhadap penjualan dibanding perubahan cuaca.

Yani (40), pedagang es jus buah di kawasan Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat, mengatakan dirinya tidak keberatan apabila pemerintah melaksanakan modifikasi cuaca untuk mengurangi dampak musim kemarau.

Baca Juga: Peringatan dari BMKG, Kekeringan El Nino Diprediksi Bertahan hingga 2027

"Ya nggak apa-apa sih kita mah, ikut aja lah," kata Yani saat ditemui Akurat Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Meski cuaca panas membuat jumlah pembeli sedikit meningkat, Yani mengaku kenaikan penjualan tidak terlalu signifikan.

"Naik (omzet penjualan), paling dikit," ujarnya.

Menurut dia, lesunya daya beli masyarakat menjadi penyebab penjualan tidak melonjak seperti yang diharapkan.

"Sekarang kayaknya agak berkurang ya, karena mungkin apa-apa mahal. Jadi orang jajannya nggak royal-royal banget," katanya.

Di sisi lain, biaya operasional juga terus meningkat. Harga sejumlah buah seperti jambu, jeruk, alpukat, mangga, dan pisang mengalami kenaikan. Selain itu, harga es batu dan plastik kemasan juga ikut naik.

"Harga es batu naik, plastik naik, buah juga naik. Tapi harga esnya nggak naik, takut nggak ada yang beli," ucap Yani.

Meski demikian, ia memilih mempertahankan harga jual dan menyiasati kenaikan modal dengan mengatur pembelian bahan baku.

Sementara itu, pedagang es teh di kawasan yang sama, Rahmat (35), juga mengaku tidak mempermasalahkan rencana operasi modifikasi cuaca. Menurutnya, cuaca bukan satu-satunya faktor yang menentukan ramainya pembeli.

"Kalau memang buat kepentingan masyarakat ya silakan saja. Kita ikut kebijakan pemerintah," tukas Rahmat.

Ia menuturkan cuaca panas memang membuat penjualan meningkat, terutama pada siang hari. Namun, kenaikan tersebut tidak terlalu besar karena masyarakat kini lebih selektif dalam membelanjakan uang.

"Yang beli memang nambah, tapi tidak banyak. Orang sekarang lebih ngirit, jadi tetap lihat-lihat pengeluaran," ujarnya.

Rahmat berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik agar daya beli kembali meningkat. Menurutnya, hal itu akan lebih berdampak terhadap pendapatan pedagang dibanding perubahan cuaca.

"Kalau ekonomi masyarakat bagus, mau panas atau hujan tetap ada yang beli," katanya.

Diketahui, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuka peluang melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mendatangkan hujan di ibu kota di tengah musim kemarau yang telah berlangsung selama dua hingga tiga pekan terakhir.

Gubernur Jakarta, Pramono Anung, mengatakan bahwa langkah tersebut disiapkan sebagai antisipasi dampak kemarau panjang yang berpotensi memperburuk kualitas udara di Jakarta.

Pemprov DKI telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemungkinan pelaksanaan OMC.

"Pemerintah DKI Jakarta sudah berkoordinasi dengan BMKG mengenai Jakarta. Pemerintah DKI Jakarta sendiri mempunyai Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan saya sudah sampaikan ke internal Balai Kota bahwa kalau memang harus diperlukan modifikasi cuaca, saya izinkan," kata Pramono di TPS 3R Mentas, Menteng Atas, Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026). (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

L
Reporter
Laode Akbar
Y