Rupiah Menguat Tinggalkan Level Rp18.000 per Dolar AS

AKURAT JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhirnya mampu bernapas lega pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026).
Mata uang Indonesia sukses mengakhiri sesi dengan penguatan signifikan sebesar 114 poin ke level Rp17.944 per dolar AS, setelah sebelumnya bertengger di posisi Rp18.058 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa kelanjutan tren positif rupiah ini dipicu oleh respons pasar terhadap kebijakan moneter domestik.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp18.000, Menkeu Purbaya: Kita Tidak Sedang Menuju Krisis 1998!
Bank Indonesia (BI) sebelumnya mengambil langkah berani dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.
Langkah taktis yang diambil Bank Sentral pada Selasa kemarin dinilai sangat efektif untuk menjinakkan gejolak mata uang lokal yang belakangan ini terus-menerus mencetak rekor terendah baru.
"Pelaku pasar menyambut baik kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen yang bertujuan untuk menstabilkan rupiah setelah berulang kali mencapai rekor terendah," kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/6/2026).
Kebijakan ini juga membawa angin segar bagi pasar obligasi. Dengan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun yang berada di kisaran 7,4 persen, daya tarik investasi surat utang diproyeksi meningkat.
Investor asing maupun domestik diperkirakan bakal kembali memburu lelang Surat Utang Negara (SUN).
Di sisi lain, keperkasaan rupiah hari ini terbilang luar biasa mengingat situasi geopolitik global tengah membara.
Ketegangan antara AS dan Iran kembali memuncak setelah militer AS meluncurkan serangan balasan ke wilayah Iran pada Selasa (9/6/2026), pasca-jatuhnya helikopter militer mereka di dekat Selat Hormuz.
Konflik di Selat Hormuz ini langsung memicu alarm bahaya bagi pasar energi dunia. Pasalnya, jalur laut super ketat tersebut merupakan urat nadi bagi seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global.
Terkait gangguan pasokan ini, Menteri Energi AS Chris Wright mengonfirmasi bahwa aliran energi global saat ini memang berada di bawah kondisi normal dan diperkirakan memerlukan waktu hingga berbulan-bulan untuk bisa pulih total.
Imbas dari panasnya geopolitik tersebut, harga minyak dunia merangkak naik sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu.
Kenaikan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran baru akan lonjakan inflasi global, yang berpotensi mempersulit arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Namun demikian, kuatnya fondasi sentimen domestik dari kebijakan Bank Indonesia terbukti mampu menjadi tameng kokoh. Rupiah pun sukses menutup hari dengan performa gemilang di zona hijau.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026


