Jakarta

Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Optimis Nilai Fundamental Jauh Lebih Perkasa

Aisya Nur Aziza | 4 Juni 2026, 21:55 WIB
Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Optimis Nilai Fundamental Jauh Lebih Perkasa
Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS

AKURAT JAKARTA — Nilai tukar rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS sejak Kamis (4/6).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pastikan pelemahan rupiah belum mengganggu kemampuan pemerintah dalam membayar utang negara.

Ia menjelaskan bahwa sebagian besar kupon surat utang pemerintah menggunakan skema suku bunga tetap (fixed rate).

Di mana struktur ini membuat fluktuasi nilai tukar tidak memberikan dampak signifikan terhadap pokok utang yang harus dibayarkan.

Meski demikian, Menkeu tidak menampik adanya tekanan pada porsi utang tertentu.

Pelemahan mata uang Garuda diakui otomatis meningkatkan beban pembayaran bunga untuk utang yang berdenominasi valuta asing (valas) saat dikonversi ke dalam rupiah.

"Kuponnya sih konstan. Kalau pembayaran utang kan lewat kuponnya. Cuma pada waktu rupiah melemah, ya meningkatkan dalam rupiah pembayarannya," ujar Purbaya.

Baca Juga: Jawab Rumor Reshuffle, Mensesneg Jawab Posisi Menkeu Purbaya

Melampaui Target APBN

Adapun sebelumnya, posisi rupiah saat ini telah melampaui asumsi makro yang ditetapkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni sebesar Rp16.500 per dolar AS.

Menyikapi situasi tersebut Kementerian Keuangan mengklaim telah melakukan berbagai simulasi risiko.

Purbaya optimis bahwa nilai fundamental rupiah sebenarnya jauh lebih kuat daripada kondisi pasar spot saat ini.

“Pada dasarnya, fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang. Lebih kuat dari yang sekarang,” kata Purbaya menambahkan.

BI Pertebal Intervensi Pasar

Merespons tekanan yang terus berlanjut, Bank Indonesia (BI) menyatakan siap mengambil langkah agresif guna menstabilkan nilai tukar.

Bank sentral memastikan bakal meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa selain intervensi langsung, BI juga memperkuat struktur suku bunga pada instrumen moneter yang ramah pasar (pro-market).

Langkah ini diambil guna merangsang kembali aliran modal asing masuk ke aset domestik.

“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” tegas Destry secara terpisah. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.