Jakarta

Hari Ini, 28 Maret jadi Sejarah Berakhirnya Perang Jawa Usai Pangeran Diponegoro Ditangkap Belanda

aditia | 28 Maret 2024, 11:45 WIB
Hari Ini, 28 Maret jadi Sejarah Berakhirnya Perang Jawa Usai Pangeran Diponegoro Ditangkap Belanda

AKURAT.CO - Hari Ini dalam sejarah, tepat pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda sebagai tanda berakhirnya Perang Jawa.

Perang Jawa sendiri terjadi antara pasukan Pangeran Diponegoro melawan pasukan Belanda pada tahun 1825-1830.

Penangkapan Pangeran Diponegoro tersebut terjadi 2 hari setelah lebaran, bertepatan pada 28 Maret 1830.

Lalu bagaimana sejarah berakhirnya Perang Jawa usai Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda pada tanggal 28 Maret?

Baca Juga: Teori Gujarat, Sejarah Masuknya Islam di Indonesia pada Abad ke-13

Perang Diponegoro atau Perang Jawa pecah pada 20 Juli 1825 di Yogyakarta. Adapun perang tersebut kemudian meluas hingga hampir di seluruh Pulau Jawa.

Taktik gerilya yang digunakan oleh Diponegoro seakan membuat Jenderal de Kock seperti orang bodoh.

Pemimpin pasukan Belanda tersebut dinilai gagal ketika harus berhadapan dengan perlawanan Pangeran Diponegoro.

Anggapan tersebut, membuat de Kock melakukan segala cara untuk bisa menangkap Pangeran Diponegoro.

Baca Juga: Selalu Dinantikan umat Islam di Bulan Ramadhan, Berikut Ini Sejarah Malam Lailatul Qadar

Jenderal de Kock mendapat tekanan jika ia harus bisa menggagalkan perlawanan Diponegoro tanpa harus melakukan perundingan.

Akan tetapi de Kock tahu jika hal itu adalah mustahil, perundingan tetap harus dilakukan supaya perlawanan Diponegoro bisa berakhir.

Awal mula berakhirnya perlawanan Pangeran Diponegoro adalah ketika adanya gencatan senjata ketika datangnya bulan Ramadhan pada Februari 1830.

Saat itu, Pangeran Diponegoro bersama dengan 800 pengikutnya istirahat dan tinggal di sebuah rumah besar di tepi Kali Progo.

Baca Juga: Terbesar di Jakarta Sebelum adanya Istiqlal, Begini Sejarah Pembangunan Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru

Saat itu masyarakat menyebutnya sebagai daerah Matesih. Meski musuh besar Belanda, rakyat tetap mengelukan nama Diponegoro karena dianggap sebagai Ratu Adil.

Sejumlah 800 pengikut Diponegoro tersebut bersenjatakan tombak yang tampil dalam balutan sorban dan jubah putih.

Setiap pagi selama bulan Ramadhan, Diponegoro dan pasukannya berlatih olah kanuragan sembari menjalankan ibadah puasa.

Awal bulan Maret 1830, Diponegoro berpesan kepada De Kock melalui Cleerens jika selama bulan puasa, ia tidak akan melakukan pembicaraan apapun soal perang.

Baca Juga: Sejarah Gencatan Senjata Perang Diponegoro Selama Bulan Ramadhan yang Berakhir Tragis Ketika Lebaran

Jadi, pertemuan antara Cleerens dengan Pangeran Diponegoro hanya beramah-tamah biasa.

Pesan Diponegoro disambut manis oleh De Kock, ia bahkan memberikan seekor kuda berwarna abu-abu dan uang f10.000.

De Kock bahkan mengizinkan anggota keluarga Diponegoro yang ditawan di Yogyakarta dan Semarang bergabung dengannya di Magelang.

Ajudan De Kock, Mayor F.V.H.A. de Stuers dan Residen Kedu, Vlack sering bertamu ke pesanggrahan Diponegoro yang berada di Metesih, mereka juga minta diberitahu keperluannya.

Baca Juga: Hanya PNS yang menerima, Begini Sejarah Perjuangan Buruh PKI Memperjuangkan THR

Selama gencatan senjata tersebut, banyak masyarakat Kedu yang berkunjung ke pesanggrahan Diponegoro sembari memberikan berbagai makanan, seperti gula jawa.

De Kock tercatat tiga kali bertemu dengan Diponegoro, dua kali ketika jalan subuh di taman karesidenan dan sekali di pesanggrahan.

De Kock sangatlah politis, ia membiarkan Diponegoro menikmati jaminan semuanya sembari berharap ia menyerah tanpa syarat.

Sikap manis De Kock selama gencatan senjata di bulan Ramadhan tidak bisa meruntuhkan pendirian Pangeran Diponegoro.

Baca Juga: Hanya Penanda Persiapan Puasa Dimulai, Begini Sejarah Awal Mula Imsak

Ia kemudian mendapat kabar dari mata-mata yang disusupkan dalam kesatuan Diponegoro, yakni Tumenggung Mangunkusumo.

De Kock mendapat berita jika Diponegoro menyatakan dirinya sebagai pemimpin dan pengatur agama di seluruh Tanah Jawa.

Berangkat dari itu, De Kock kemudian mengambil langkah tegas. Pada 25 Maret 1830, dua hari sebelum bulan Ramadhan berakhir, ia memerintahkan secara rahasia dua komandannya. Mereka adalah Louis du Perron dan A.V Michels.

Baca Juga: Sudah Jadi Tradisi Jelang Lebaran, Bagaimana Sejarah Mudik di Indonesia? Berikut Penjelasannya

Dua komandan tersebut diberi tugas untuk mempersiapkan perlengkapan militer guna menangkap Diponegoro.

Gencatan senjata yang berlangsung selama bulan Ramadhan akhir berakhir.

Pangeran Diponegoro ditangkap secara tragis pada hari kedua lebaran, tepatnya pada 28 Maret 1830.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.