Gen Z Rentan Depresi Hingga Berujung Bunuh Diri, Begini Cara Mencegahnya

AKURAT.CO - Generasi Z atau Gen Z memiliki karakteristik yang dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka, seperti paparan kekerasan media, perlindungan yang lebih tinggi dari orang tua, ketidakmampuan mengambil risiko, tekanan untuk sukses dan terlihat baik di media sosial.
Masa puber Gen Z bertepatan dengan perkembangan teknologi dan media sosial, menciptakan lingkungan yang menggelisahkan bagi mereka.
Faktor-faktor seperti stres sekolah dan konflik keluarga adalah tantangan yang sulit dihindari.
Penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan pola tidur buruk, merokok, menggunakan narkoba atau alkohol, lebih cenderung melakukan self harm atau menyakiti diri sendiri.
Baca Juga: Raih WTP 15 Kali Berturut-turut, Bukti Nyata Kepemimpinan Bupati Zaki yang Bersih
Hasil penelitian yang menunjukkan, remaja usia 13-17 tahun adalah kelompok yang paling rentan terhadap perilaku self harm hingga aksi bunuh diri.
Dalam konteks internasional, sekitar 6% kematian pada populasi usia 15-29 tahun disebabkan oleh self harm.
Di Indonesia, prevalensi self harm meningkat dari 3,6% pada 2012 menjadi 3,9% pada 2015 di kalangan usia 13-17 tahun.
Seseorang melakukan self harm bisa bervariasi, termasuk sebagai cara untuk mengatasi emosi, tekanan hidup yang berat, atau pengalaman masa lalu yang memengaruhi mereka.
Pengaruh media sosial, citra tubuh yang ditekan, dan internet juga dapat memicu seseorang melakukan self harm atau bunuh diri.
Baca Juga: Kuasa Hukum David Ozora Minta PT DKI Tambah Jumlah Restitusi Mario Dandy
Pola pikir yang merasa perlu dihukum atau memiliki gangguan mental seperti depresi, kecemasan, atau skizofrenia, juga dapat mendorong self harm.
Bagi Gen Z yang memerlukan bantuan, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang tepat.
Layanan puskesmas dan nomor darurat 119 juga tersedia untuk mencegah aksi bunuh diri dan melaporkan keadaan yang mengkhawatirkan.
Konselor swasta juga dapat menjadi alternatif bagi yang memerlukan dukungan emosional.
Dalam menghadapi tantangan kesehatan mental, penting untuk mencari bantuan dan berbicara dengan seseorang yang dapat membantu. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini




Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026



