Jakarta

Bukan WhatsApp Lagi, Gen Z Mulai Beralih ke Aplikasi Chat Nyleneh yang Bisa 'Hilangkan' Pesan

Aisya Nur Aziza | 29 Agustus 2026, 08:58 WIB
Bukan WhatsApp Lagi, Gen Z Mulai Beralih ke Aplikasi Chat Nyleneh yang Bisa 'Hilangkan' Pesan
Ilustrasi aplikasi pesan lambat yang digemari Gen Z

AKURAT JAKARTA - Bosan dengan aplikasi chat biasa, Generasi Z mulai beralih ke aplikasi pesan baru yang sengaja dibuat lambat.

Aplikasi ini bahkan punya aturan yang lebih greget, di mana pesan yang dikirim bisa saja hilang di tengah jalan dan tidak pernah sampai.

Ya, tren baru ini hadir sejak terbitnya aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost.

Aplikasi-aplikasi yang muncul sebagai pilihan baru kaum Gen Z yang mulai bosan dengan aplikasi kirim pesan populer seperti WhatsApp atau iMessage.

Sistem operasional aplikasi yang dikembangkan oleh pengembang Noah Iarrobino ini terbilang tak biasa.

Saat tombol kirim ditekan, pesan tidak akan langsung mendarat di ponsel penerima.

Aplikasi akan mensimulasikan burung merpati virtual yang membawa surat tersebut dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam.

Baca Juga: Hormati Pemberian Kakek-Nenek, Ariel Tatum Resmi Ubah Nama

Durasi pengiriman

Lucunya lagi, pesan ini bergantung pada jarak penerima.

Apabila penerima hanya berjarak dekat dengan pengirim, maka mereka hanya membutuhkan waktu beberapa detik.

Namun jika itu terjadi di antarbenua, penerima harus menunggu hingga berjam-jam untuk membaca isi pesannya.

Sayangnya, sistem ini membuat adanya probabilitas sebesar 0,2 persen yang mengakibatkan merpati digital tersebut "tersesat", atau gagal terkirim selamanya.

Meskipun sang pengembang secara terbuka melabeli aplikasinya "tidak praktis" di toko aplikasi, aspek ketidakpastian inilah yang justru menjadi daya tarik utama.

Pengguna diberikan fitur peta interaktif untuk memantau pergerakan merpati secara real-time menuju lokasi penerima.

Melawan Sensi Komunikasi Serba Cepat

Gaya berkomunikasi ini dengan cepat menarik perhatian publik luas.

Aplikasi Roost, misalnya, telah mencatatkan 300.000 pengguna aktif hanya dalam hitungan minggu sejak peluncurannya.

Kepopuleran ini menandai pergeseran paradigma komunikasi di kalangan anak muda.

Pengiriman pesan yang melambat dinilai berhasil memangkas tekanan sosial untuk membalas obrolan secara instan.

Skema ini memberi ruang bagi pengirim untuk berpikir lebih matang sebelum menulis, sekaligus mengembalikan nilai kehangatan dari sebuah penantian pesan yang kerap hilang di aplikasi perpesanan serba otomatis. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.