Bukan WhatsApp Lagi, Gen Z Mulai Beralih ke Aplikasi Chat Nyleneh yang Bisa 'Hilangkan' Pesan

AKURAT JAKARTA - Bosan dengan aplikasi chat biasa, Generasi Z mulai beralih ke aplikasi pesan baru yang sengaja dibuat lambat.
Aplikasi ini bahkan punya aturan yang lebih greget, di mana pesan yang dikirim bisa saja hilang di tengah jalan dan tidak pernah sampai.
Ya, tren baru ini hadir sejak terbitnya aplikasi seperti Carrier Pidge dan Roost.
Aplikasi-aplikasi yang muncul sebagai pilihan baru kaum Gen Z yang mulai bosan dengan aplikasi kirim pesan populer seperti WhatsApp atau iMessage.
Sistem operasional aplikasi yang dikembangkan oleh pengembang Noah Iarrobino ini terbilang tak biasa.
Saat tombol kirim ditekan, pesan tidak akan langsung mendarat di ponsel penerima.
Aplikasi akan mensimulasikan burung merpati virtual yang membawa surat tersebut dengan kecepatan rata-rata 177 kilometer per jam.
Baca Juga: Hormati Pemberian Kakek-Nenek, Ariel Tatum Resmi Ubah Nama
Durasi pengiriman
Lucunya lagi, pesan ini bergantung pada jarak penerima.
Apabila penerima hanya berjarak dekat dengan pengirim, maka mereka hanya membutuhkan waktu beberapa detik.
Namun jika itu terjadi di antarbenua, penerima harus menunggu hingga berjam-jam untuk membaca isi pesannya.
Sayangnya, sistem ini membuat adanya probabilitas sebesar 0,2 persen yang mengakibatkan merpati digital tersebut "tersesat", atau gagal terkirim selamanya.
Meskipun sang pengembang secara terbuka melabeli aplikasinya "tidak praktis" di toko aplikasi, aspek ketidakpastian inilah yang justru menjadi daya tarik utama.
Pengguna diberikan fitur peta interaktif untuk memantau pergerakan merpati secara real-time menuju lokasi penerima.
Melawan Sensi Komunikasi Serba Cepat
Gaya berkomunikasi ini dengan cepat menarik perhatian publik luas.
Aplikasi Roost, misalnya, telah mencatatkan 300.000 pengguna aktif hanya dalam hitungan minggu sejak peluncurannya.
Kepopuleran ini menandai pergeseran paradigma komunikasi di kalangan anak muda.
Pengiriman pesan yang melambat dinilai berhasil memangkas tekanan sosial untuk membalas obrolan secara instan.
Skema ini memberi ruang bagi pengirim untuk berpikir lebih matang sebelum menulis, sekaligus mengembalikan nilai kehangatan dari sebuah penantian pesan yang kerap hilang di aplikasi perpesanan serba otomatis. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!







