Jakarta

92 Persen Pekerja Indonesia Sudah Kenal AI, Tapi Cuma 15 Persen yang Memakainya untuk Kerja

Anggerhana Denni Rahmawati | 27 Agustus 2026, 19:45 WIB
92 Persen Pekerja Indonesia Sudah Kenal AI, Tapi Cuma 15 Persen yang Memakainya untuk Kerja
Pekerja Indonesia ramai-ramai kena AI, tapi pemanfaatannya belum seproduktif yang dibayangkan. - monash.edu

AKURAT JAKARTA - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini bukan lagi teknologi yang asing bagi pekerja Indonesia.

Chatbot, mesin pencari berbasis AI, hingga berbagai aplikasi pintar semakin mudah ditemukan dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari.

Namun, tingginya tingkat pengenalan terhadap AI ternyata belum otomatis membuat teknologi tersebut menjadi alat produktivitas di tempat kerja.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah mengungkapkan, sekitar 92 persen pekerja di Indonesia sudah familiar dengan AI.

Persoalannya, hanya sebagian kecil yang benar-benar memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjang pekerjaan.

"Sebanyak 92% pekerja kita sudah familiar menggunakan AI. Masalahnya, hanya 15% yang menggunakannya secara produktif. Sebagian besar masih menggunakan AI untuk browsing," kata Edwin, Kamis (27/8/2026).

Angka tersebut menunjukkan adanya jarak yang cukup besar antara mengenal AI dan mampu memanfaatkannya.

Bagi banyak pekerja, menggunakan AI mungkin berarti mengetik pertanyaan di chatbot atau mencari informasi yang sebelumnya harus ditemukan melalui mesin pencari.

Cara tersebut memang menunjukkan adanya adopsi teknologi.

Namun, pemanfaatan AI sebenarnya dapat jauh lebih luas.

Baca Juga: Bukan Sekadar Rompi, Teknologi Buatan Mahasiswa UB Ini Coba Tahu Kapan Anak dengan ASD Mulai Tantrum

Teknologi ini dapat digunakan untuk membantu membuat konsep, menganalisis informasi, merangkum dokumen, mengolah data, menyusun pekerjaan administratif, hingga mendukung proses kreatif dan pengambilan keputusan.

Ketika sebagian besar pengguna masih berada pada tahap mencari informasi, potensi AI untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Inilah persoalan yang kini menjadi perhatian pemerintah.

Tantangannya bukan semata-mata menyediakan akses terhadap AI, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk menggunakannya secara tepat dan produktif.

Perkembangan layanan AI membuat hambatan untuk mencoba teknologi semakin rendah.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.