Awas! Musim Kemarau Picu Lonjakan Kasus ISPA

AKURAT JAKARTA — Lonjakan tingkat polusi udara selama musim kemarau panjang berpotensi besar memicu berbagai penyakit gangguan pernapasan, salah satunya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kombinasi antara cuaca kering, debu, dan emisi pembakaran membuat kualitas udara kian memburuk hingga rentan memicu iritasi saat terhirup.
Melansir dari laman ANTARA, kondisi udara yang tercemar memperbesar peluang masuknya virus dan bakteri ke dalam sistem pernapasan manusia.
Risikonya akan semakin tinggi apabila daya tahan tubuh seseorang sedang dalam kondisi menurun, sehingga memicu infeksi seperti ISPA.
Tak hanya polusi harian, ancaman serius juga datang dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Paparan asap karhutla jauh lebih berbahaya karena mengandung berbagai senyawa kimia beracun, mulai dari karbon monoksida, metana, nitrogen oksida, hingga sulfur dioksida.
Senyawa-senyawa kimia ini tidak hanya memicu infeksi saluran pernapasan biasa, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak penyakit kronis yang lebih berat di dalam tubuh.
BMKG Imbau Kewaspadaan Tinggi Saat Kemarau
Menanggapi potensi bahaya tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan publik untuk mewaspadai ancaman kesehatan selama musim kemarau.
Minimnya tutupan awan memicu lonjakan suhu udara yang signifikan, yang tidak hanya meningkatkan risiko heat stroke (sengatan panas), tetapi juga memicu potensi karhutla yang merusak kualitas udara.
Langkah Pencegahan Dampak Cuaca Panas dan Polusi
Guna menekan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas dan polusi udara, masyarakat dianjurkan untuk menerapkan beberapa langkah antisipasi sederhana berikut:
Hindari berada di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak, terutama saat terik matahari memuncak.
Gunakan topi dan masker yang efektif menyaring debu serta partikel polusi saat beraktivitas di luar.
Cukupi kebutuhan air putih harian untuk mencegah dehidrasi.
Terapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta konsumsi makanan bergizi seimbang untuk memperkuat daya tahan tubuh. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




