Jakarta

Semakin Banyak Orang Memilih Tetap Lajang, Ternyata Bukan Karena Tak Laku

Anggerhana Denni Rahmawati | 15 Juli 2026, 18:45 WIB
Semakin Banyak Orang Memilih Tetap Lajang, Ternyata Bukan Karena Tak Laku
Tetap lajang kini lebih banyak dipilih daripada harus menikah.

AKURAT JAKARTA - Selama bertahun-tahun, menikah sering dianggap sebagai pencapaian yang harus diraih setiap orang dewasa.

Namun, pandangan tersebut mulai bergeser.

Kini, semakin banyak orang memilih tetap melajang bukan karena belum menemukan pasangan, melainkan karena merasa hidup mereka sudah bahagia dan bermakna.

Fenomena ini semakin terlihat di berbagai negara.

Para psikolog menilai status lajang kini semakin dipandang sebagai pilihan hidup yang sah, bukan kondisi yang harus segera diubah.

Banyak orang lebih mengutamakan kesejahteraan diri, karier, kesehatan mental, hingga kebebasan menentukan arah hidup dibanding merasa harus segera menikah.

Perubahan cara pandang ini juga dipengaruhi oleh kesadaran bahwa kualitas hidup tidak ditentukan oleh status hubungan.

Seseorang tetap dapat memiliki kehidupan yang sehat, produktif, dan memuaskan meski tidak memiliki pasangan.

Selain itu, masa lajang kini dianggap sebagai kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

Banyak orang memanfaatkan waktu tersebut untuk membangun karier, memperbaiki kondisi finansial, menjaga kesehatan mental, atau mengejar berbagai tujuan pribadi yang sebelumnya tertunda.

Baca Juga: Generasi Alpha dan AI: Batas Tipis antara Membantu Belajar dan Membuat Anak Bergantung

=====

Para ahli juga menilai kehidupan tanpa hubungan yang penuh konflik dapat membantu mengurangi tekanan emosional.

Bagi sebagian orang, hidup sendiri justru memberikan ketenangan, ruang untuk berkembang, dan kesempatan menetapkan prioritas sesuai kebutuhan pribadi.

Meski memilih melajang, bukan berarti seseorang hidup dalam kesepian.

Banyak orang tetap memiliki hubungan yang erat dengan keluarga, sahabat, maupun komunitas sehingga kebutuhan emosional tetap terpenuhi tanpa harus bergantung pada hubungan romantis.

Perubahan pola pikir ini menunjukkan bahwa definisi kehidupan yang bahagia kini semakin beragam.

Jika dulu menikah dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan hidup, kini semakin banyak orang meyakini bahwa kebahagiaan dapat dibangun melalui berbagai cara, termasuk dengan memilih tetap melajang secara sadar. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.