Jakarta

Fenomena “Marriage Is Scary”, Ketika Menikah Tak Lagi Dianggap Wajib

Zainal Abidin | 20 Desember 2025, 08:00 WIB
Fenomena “Marriage Is Scary”, Ketika Menikah Tak Lagi Dianggap Wajib

AKURAT JAKARTA - Ungkapan “Marriage Is Scary” digunakan untuk menggambarkan rasa takut dan kekhawatiran anak muda terhadap institusi pernikahan.

Bagi sebagian Gen Z, pernikahan tidak lagi dilihat sebagai tujuan hidup utama, melainkan sebuah keputusan besar yang penuh konsekuensi.

Cinta saja dinilai tidak cukup tanpa kesiapan mental, finansial, dan emosional yang matang.

Baca Juga: Konser Amal di Jogja: Hanyengkuyung Sumatra Digelar 23 Desember 2025, Hadirkan 14 Musisi dari Letto, Kunto Aji hingga Rebellion Rose

Keraguan tersebut semakin kuat setelah melihat tingginya angka perceraian di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perceraian mencapai 399.921 kasus.

Angka ini membuat banyak anak muda mempertanyakan stabilitas pernikahan dan takut mengulangi kegagalan yang sama.

Baca Juga: Ternyata Sehat Belum Tentu Tepat, Ini Daftar Buah yang Bisa Mengganggu Tidur Malammu

Mereka melihat pernikahan bukan hanya soal kebahagiaan, tetapi juga potensi konflik dan tekanan jangka panjang.

Tekanan finansial menjadi faktor utama yang membuat Gen Z memilih menunda menikah.

Biaya hidup yang tinggi, utang pendidikan, serta harga sewa tempat tinggal yang mahal membuat pernikahan terasa sebagai beban tambahan.

Baca Juga: Naik KRL Saat Libur Nataru Tetap Nyaman dengan Mengikuti Tips Berikut Ini

Saat penghasilan belum stabil, membangun rumah tangga dinilai terlalu berisiko secara ekonomi.

Ketidakpastian ekonomi juga memperkuat keraguan tersebut.

Banyak Gen Z bekerja dengan sistem kontrak atau lepas tanpa jaminan jangka panjang.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, 5 Teh Ini Diyakini Bisa Mengendalikan Mood

Kondisi ini membuat kamu lebih fokus pada pengembangan diri dan karier.

Pernikahan dikhawatirkan membatasi fleksibilitas serta peluang profesional di masa depan.

Selain itu, perubahan sikap sosial turut memengaruhi pandangan Gen Z.

Baca Juga: Dongeng Anak: Kancil dan Si Merak Sombong

Mereka tumbuh dengan menyaksikan berbagai konflik keluarga dan hubungan yang berakhir dengan perceraian.

Pengalaman tersebut membentuk persepsi bahwa pernikahan bukan jaminan kebahagiaan, sehingga komitmen jangka panjang terasa menakutkan.

Isu kesehatan mental juga menjadi perhatian besar.

Baca Juga: Hari Ibu Makin Spesial dengan 10 Ide Hadiah Sederhana tapi Bermakna

Banyak Gen Z memilih memprioritaskan kestabilan emosional sebelum membangun hubungan serius.

Menikah tanpa kesiapan mental dianggap berisiko menciptakan hubungan yang tidak sehat.

Di era teknologi dan media sosial, standar hubungan pun semakin tinggi.

Baca Juga: Rumah Lembab Jadi Sarang Black Mold atau Jamur Hitam, Ini yang Perlu Kamu Ketahui

Gambaran hubungan sempurna yang sering tampil di media sosial membuat realitas pernikahan terasa jauh dari ekspektasi.

Kemudahan bertemu orang baru juga membuat keputusan menetap dalam satu hubungan terasa membatasi.

Bagi Gen Z, komitmen tidak selalu harus diwujudkan melalui pernikahan.

Baca Juga: Tak Sekadar Buah Biasa, Ini 7 Manfaat Apel untuk Kesehatan Tubuh

Hubungan dipandang sebagai pilihan personal, bukan kewajiban sosial.

Selama ada saling menghargai dan tumbuh bersama, pernikahan tidak lagi dianggap mutlak. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.