Awas Chipflation, Demam AI Bikin Harga HP, Laptop, dan PlayStation Berpotensi Naik

AKURAT JAKARTA — Lonjakan harga memori semikonduktor yang dipicu oleh masifnya belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) oleh raksasa teknologi (Big Tech), kini mulai menekan industri hilir elektronik.
Terbaru sebuah firma finansial bernama Morgan Stanley memperingatkan ancaman makroekonomi baru berupa “chipflation” atau inflasi chip.
Dalam laporan setebal 66 halaman yang dirilis Selasa lalu, Morgan Stanley mengungkapkan bahwa harga chip memori telah meroket hingga enam kali lipat dalam satu tahun terakhir.
Situasi ini memaksa para produsen gadget, mulai dari ponsel pintar hingga komputer (PC), menghadapi buah simalakama, menaikkan harga jual di tingkat konsumen atau rela mengorbankan margin keuntungan perusahaan demi mempertahankan daya beli.
"Apa yang awalnya dimulai sebagai sumbatan (bottleneck) infrastruktur AI, kini menyebar ke margin perangkat keras, keterjangkauan harga gajet, biaya komputasi awan (cloud), hingga inflasi dan kebijakan," tulis Morgan Stanley.
Lembaga tersebut menambahkan bahwa kelangkaan ini telah bergeser menjadi perhatian serius di tingkat makroekonomi.
Baca Juga: Badai 'Chipflation' AI Paksa Samsung Dongkrak Harga Galaxy Z Fold 8 hingga 50 Jutaan
Konsumen Mulai Terdampak
Meski dampak langsungnya terhadap inflasi konsumen secara umum masih terbatas, tekanan besar sudah terlihat jelas pada harga produsen, margin korporasi, serta pembengkakan biaya operasional.
Sejumlah raksasa elektronik mulai dari produsen PlayStation, Sony Group, hingga raksasa PC Lenovo dilaporkan telah menaikkan harga jual produk mereka.
Sementara itu, Big Tech juga harus merogoh kocek lebih dalam. Microsoft, misalnya, memproyeksikan sekitar US$25 miliar dari total belanja modal mereka yang mencapai US$190 tahun ini habis hanya untuk menutup selisih kenaikan harga chip.
Dampaknya terhadap pasar global diprediksi bakal signifikan.
Lembaga riset pasar IDC memperkirakan pasar PC dan ponsel pintar akan menyusut tajam pada tahun 2026.
Lonjakan harga perangkat diproyeksikan bakal membuat konsumen terutama di segmen menengah ke bawah menunda pembelian gadget baru. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Hapoel Beer Sheva di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Pertahankan Rekor Kandang?
- 2Prediksi Skor Hoffenheim vs Besiktas di UEL, 16 Oktober 2026: Mampukah Die Kraichgauer Bangkit di Kandang?
- 3Prediksi Skor Eintracht Frankfurt vs FC Koln di Bundesliga, 17 Oktober 2026: Mampukah Die Adler Bangkit dari Kekalahan Telak?
- 4Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Levante di La Liga, 17 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Akhiri Tren Negatif?
- 5Prediksi Skor Sparta Praha vs Lillestrom di UEL, 15 Oktober 2026: Tren Positif Tuan Rumah Diuji Wakil Norwegia
- 6Prediksi Skor Celje vs Omonia di UEL, 15 Oktober 2026: Mampukah Tuan Rumah Bangkit dari Kekalahan?
- 7Prediksi Skor Union Saint-Gilloise vs Real Sociedad di UEL, 15 Oktober 2026: Tuan Rumah Incar Kemenangan Kedua
- 8Prediksi Skor Frosinone vs Sassuolo di Serie A, 17 Oktober 2026: Mampukah Canarini Balas Dendam atas Neroverdi?
- 9Pertama dan Satu-Satunya! Mitra Driver Gojek Terpilih dari Seluruh Indonesia Kibarkan Merah Putih
- 10Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!




