Jakarta

Tidak Harus 3 Kali Sehari? Ini Fakta Ilmiah tentang Frekuensi Makan yang Perlu Diketahui

Anggerhana Denni Rahmawati | 6 Juni 2026, 19:30 WIB
Tidak Harus 3 Kali Sehari? Ini Fakta Ilmiah tentang Frekuensi Makan yang Perlu Diketahui
Fakta yang perlu dipahami mengenai frekuensi makan.

AKURAT JAKARTA - Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa makan tiga kali sehari adalah aturan yang wajib diikuti.

Namun, ilmu gizi modern menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak memiliki kewajiban biologis untuk selalu makan pagi, siang, dan malam.

Pola makan tiga kali sehari lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan sosial, budaya, dan ritme kerja masyarakat modern.

Yang paling penting sebenarnya adalah memastikan kebutuhan energi dan nutrisi harian tetap terpenuhi dengan baik.

Berikut beberapa fakta yang perlu dipahami mengenai frekuensi makan.

1. Tubuh Tidak Memiliki Aturan Wajib Makan 3 Kali Sehari

Tubuh manusia mampu beradaptasi dengan berbagai pola makan selama kebutuhan nutrisi hariannya tetap tercukupi.

Dalam sejarahnya, manusia tidak selalu memiliki akses makanan sepanjang hari seperti yang terjadi saat ini.

Karena itu, tubuh memiliki mekanisme alami untuk mengatur penggunaan energi ketika jeda makan berlangsung lebih lama.

2. Kualitas Makanan Lebih Penting daripada Frekuensi Makan

Jumlah makan dalam sehari bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan seseorang.

Asupan protein, serat, vitamin, mineral, serta keseimbangan kalori jauh lebih berpengaruh terhadap kesehatan tubuh.

Seseorang yang makan dua kali sehari dengan gizi seimbang dapat tetap sehat dan bugar dalam aktivitas sehari-hari.

3. Pola Makan Dua Kali Sehari Banyak Diterapkan

Sebagian orang memilih makan dua kali sehari karena merasa lebih nyaman dan mudah mengatur asupan kalori.

Baca Juga: Anak Sering Rewel Tanpa Sebab, Bisa Jadi Tanda Masalah Pencernaan

=====

Pola ini sering dikombinasikan dengan metode puasa intermiten atau Intermittent Fasting yang cukup populer.

Beberapa penelitian menunjukkan pola tersebut dapat membantu pengendalian berat badan dan gula darah tertentu.

4. Makan Terlalu Jarang Juga Memiliki Risiko

Mengurangi frekuensi makan tidak selalu cocok untuk semua orang dan perlu dilakukan secara bijaksana.

Rasa lapar yang berlebihan dapat memicu keinginan makan dalam porsi besar saat waktu makan tiba.

Jika tidak direncanakan dengan baik, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi penting.

5. Makan Terlalu Sering Belum Tentu Lebih Baik

Sebagian orang beranggapan bahwa makan lebih sering dapat mempercepat metabolisme tubuh secara signifikan.

Namun, penelitian menunjukkan pengaruh frekuensi makan terhadap metabolisme tidak sebesar yang sering dipercaya.

Jika total kalori berlebihan, makan terlalu sering tetap dapat berkontribusi pada kenaikan berat badan.

6. Kebutuhan Setiap Orang Berbeda

Tidak ada pola makan yang ideal untuk semua orang karena kebutuhan tubuh setiap individu berbeda.

Usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, dan tujuan kebugaran turut memengaruhi kebutuhan makan.

Atlet, pekerja berat, ibu hamil, atau penderita penyakit tertentu mungkin memerlukan pola yang berbeda.

Baca Juga: Prediksi Skor Amerika Serikat vs Jerman, 7 Juni 2026: Ujian Berat Tuan Rumah Hadapi Die Mannschaft

=====

7. Dengarkan Respons Tubuh Kamu

Tubuh biasanya memberikan sinyal alami berupa rasa lapar dan kenyang yang perlu diperhatikan.

Memahami sinyal tersebut dapat membantu seseorang membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.

Pola makan yang nyaman, berkelanjutan, dan bergizi umumnya lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.