Jakarta

Studi: Olahraga Saja Tak Cukup Tebus Dampak Buruk Duduk Terlalu Lama

Yusuf Doank | 9 April 2026, 13:10 WIB
Studi: Olahraga Saja Tak Cukup Tebus Dampak Buruk Duduk Terlalu Lama
Ilustrasi

AKURAT JAKARTA — Kebiasaan duduk durasi lama berdampak buruk bagi kesehatan. Dan anggapan rutin berolahraga tebus efek negatif ternyata tidak sepenuhnya benar.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa aktivitas fisik saja belum cukup menghilangkan risiko penyakit jantung akibat terlalu banyak duduk.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology mengungkapkan bahwa aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat sesuai rekomendasi mingguan belum tentu mampu menghapus seluruh risiko kardiovaskular.

Baca Juga: Jusuf Kalla Laporkan Rismon Sianipar ke Bareskrim Terkait Dugaan Hoaks

Penelitian ini menganalisis data lebih dari 89.500 peserta dari UK Biobank dengan masa pemantauan hampir satu dekade.

Hasil riset menunjukkan, semakin lama seseorang duduk, semakin tinggi risiko mengalami gangguan seperti fibrilasi atrium, serangan jantung, hingga gagal jantung.

Bahkan, mereka yang duduk lebih dari 10,6 jam per hari (di luar waktu tidur) memiliki risiko hingga 60 persen lebih tinggi mengalami gagal jantung atau kematian akibat penyakit jantung.

Meski demikian, olahraga tetap memberikan manfaat nyata. Risiko fibrilasi atrium dan serangan jantung terbukti dapat ditekan jika seseorang aktif bergerak setidaknya 150 menit per minggu.

Namun, khusus untuk risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular, olahraga rutin saja dinilai belum cukup jika sisa waktu dalam sehari habis dalam posisi duduk.

Ahli jantung Rigved Tadwalkar menjelaskan, kurangnya pergerakan dapat memperlambat sirkulasi darah, melemahkan otot jantung, serta memicu resistensi insulin dan tekanan darah tinggi.

"Orang yang rutin berolahraga pun tetap berisiko jika sebagian besar harinya dihabiskan dengan duduk," tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, ahli medis Ragavendra Baliga menyarankan masyarakat untuk membatasi waktu duduk di bawah ambang batas 10,6 jam per hari.

Para pakar menekankan pentingnya aktivitas ringan di sela-sela waktu duduk, seperti berdiri sejenak, menggunakan tangga, atau berjalan kaki di tengah rutinitas kerja.

Organisasi kesehatan seperti American Heart Association juga terus mengimbau masyarakat untuk mengurangi durasi duduk statis.

Menjaga tubuh tetap bergerak secara konsisten sepanjang hari, bukan hanya saat berolahraga, menjadi kunci krusial dalam melindungi kesehatan jantung jangka panjang.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y