Jakarta

Perkara Ganti Gaya Lebih Gotik, Isyana Dituding Gabung Sekte Mata Satu

Aisya Nur Aziza | 7 Maret 2026, 21:50 WIB
Perkara Ganti Gaya Lebih Gotik, Isyana Dituding Gabung Sekte Mata Satu
Isyana Sarasvati dengan gaya gotik dalam album Eklektiko

AKURAT JAKARTA - Nama musisi Isyana Sarasvati mendadak jadi pusat perhatian usai merilis visual promosi album terbaru yang menampilkan simbol "mata satu" .

Pemicu utama kegaduhan ini muncul saat Isyana merilis bab Abadhi yang menjadi bab keempat 'Eklektiko'.

Di mana sebelumnya bab ini dianggap berbeda dari ketiga bab sebelumnya yakni Lunora, Mamiu, dan Cecilia yang menampilkan citra feminin dan anggun.

Dalam bab ini, Isyana justru mengadopsi gaya visual gotik yang kental dengan nuansa gelap hingga dituduh mengikuti aliran satanisme setelah salah satu materi promosi yang menampilkan visual "mata satu" atau all-seeing eye.

Baca Juga: Isyana Sarasvati Dituding Ikut Aliran Mata Satu usai Rilis MV 'Abadhi'

Klarifikasi Isyana dan Sang Suami

Menanggapi asumsi negatif yang berkembang di kalangan pecinta musik Indonesia, Isyana Sarasvati memberikan komentar singkat melalui kutipan lirik lagunya

"Sometimes pure light, sometimes cruel tides, I am passing through" (Terkadang seperti cahaya murni, terkadang seperti gelombang kejam, aku sedang melewatinya).

Sang suami Rayhan Maditra juga ikut berkomentar melalui laman media sosial pribadinya, di mana Rayhan menyampaikan kegelisahannya atas cara publik memaknai sebuah karya:

"Ujian besar bagi seorang musisi ketika karya yang lahir dari kejujuran justru dimaknai dengan cara yang jauh berbeda. Sering kali asumsi datang lebih cepat daripada keinginan untuk memahami. Semoga Tuhan melindungi kita semua dari segala bentuk fitnah di bulan suci ini," tulisnya.

Baca Juga: Tak Hanya Kanker Ginjal, Vidi Aldiano Sempat Lewati Fase Metastasis

Sebelumnya, lagu "Babel" sendiri merupakan bentuk eksplorasi penggabungan musik orkestra dengan elemen rock dan metal.

Isyana mengangkat tema harmoni di tengah perbedaan, merujuk pada filosofi Menara Babel sebagai tempat bersatunya keberagaman bahasa dan suku. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.