Mengenal Sejarah Gas Tertawa dari Dunia Medis hingga Disalahgunakan

AKURAT JAKARTA - Gas tertawa atau nitrous oxide memiliki perjalanan sejarah panjang sebelum dikenal luas seperti saat ini oleh masyarakat modern.
Senyawa kimia ini pertama kali ditemukan pada tahun 1772 oleh ilmuwan Inggris bernama Joseph Priestley melalui eksperimen ilmiahnya.
Priestley menamai temuannya sebagai “nitrous air”, namun saat itu manfaat medis dari gas ini belum sepenuhnya dipahami.
Baca Juga: Gas Tertawa N2O: Antara Manfaat Medis dan Risiko Penyalahgunaan
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 1794, ilmuwan Skotlandia James Watt mulai mengembangkan alat untuk memproduksi gas tersebut.
Watt juga menciptakan perangkat pernapasan yang memungkinkan gas dinitrogen oksida dapat dihirup dengan lebih mudah dan aman.
Rekannya, Thomas Beddoes, bahkan sempat percaya bahwa gas ini bisa digunakan untuk mengobati penyakit paru-paru seperti tuberkulosis.
Baca Juga: Pesona Machapuchare, Gunung Ekor Ikan Nepal yang Tak Pernah Tersentuh Pendaki
Penelitian tentang manfaat gas ini terus berkembang dan menarik perhatian banyak ilmuwan pada masa tersebut.
Pada tahun 1798, seorang kimiawan bernama Humphry Davy melakukan penelitian lebih mendalam terhadap efek nitrous oxide.
Davy menemukan bahwa gas ini dapat menimbulkan rasa gembira berlebihan dan membuat orang tertawa tanpa sebab jelas.
Baca Juga: Bunga Bangkai Raksasa Mekar Sempurna di Kebun Raya Bogor, Momen Langka yang Wajib Disaksikan
Dari pengalaman itulah muncul istilah populer “gas tertawa” yang kemudian dikenal luas hingga sekarang.
Dalam bukunya yang terbit tahun 1800, Davy juga mencatat bahwa gas ini mampu mengurangi rasa sakit pada tubuh manusia.
Temuan tersebut membuka jalan bagi pemanfaatan nitrous oxide dalam dunia medis, terutama untuk keperluan anestesi ringan.
Baca Juga: Waspada! Bahaya Gas Tertawa bagi Kesehatan Anak Muda
Penggunaan pertama gas tertawa dalam prosedur medis tercatat pada tahun 1844 untuk pencabutan gigi oleh dokter gigi.
Sejak saat itu, nitrous oxide semakin sering dipakai dalam praktik kedokteran gigi dan berbagai tindakan medis lain.
Hingga kini, gas tertawa masih digunakan secara legal di rumah sakit dengan pengawasan ketat tenaga kesehatan profesional.
Sayangnya, perkembangan zaman membuat gas ini mulai mudah diperoleh melalui toko daring dan disalahgunakan oleh anak muda.
Banyak remaja menghirupnya secara sembarangan demi mencari sensasi senang sesaat tanpa memikirkan bahaya kesehatannya.
Padahal, penggunaan di luar kepentingan medis dapat memicu kerusakan saraf, gangguan pernapasan, hingga risiko kematian.
Karena itu, penting bagi masyarakat memahami bahwa gas tertawa hanya aman bila digunakan sesuai prosedur medis resmi.
Edukasi tentang sejarah dan risiko nitrous oxide harus terus digalakkan agar generasi muda tidak terjerumus pada penyalahgunaan. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Rumania vs Wales, 7 Juni 2026: Misi Akhiri Paceklik Kemenangan
- 2Prediksi Skor Denmark vs Ukraina, 7 Juni 2026: De Rod-Hvide Bidik Kebangkitan di Odense
- 3Prediksi Skor Arab Saudi vs Puerto Rico, 6 Juni 2026: Kesempatan Falcons Kembali ke Jalur Kemenangan
- 4Prediksi Skor Georgia vs Bahrain, 5 Juni 2026: Crusaders Ingin Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
- 5Daftar 15 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Mozambik di Jabodetabek pada FIFA Matchday Hari Ini, Selasa 9 Juni 2026
- 6Prediksi Skor Yunani vs Italia, 8 Juni 2026: Ujian Berat Generasi Baru Azzurri
- 7Daftar 33 Lokasi Nobar Timnas Indonesia vs Oman di Jakarta dalam FIFA Matchday 2026 Hari Ini, Yuk Dukung Garuda!
- 8Prediksi Skor Slovakia vs Montenegro, 5 Juni 2026: Duel Sengit di Kosicka
- 9Ancol Sunset Sound: Cara Baru Menikmati Sunset di Jakarta Lewat Musik, Pantai, Kuliner, dan Staycation
- 10Dorong Pola Hidup Sehat dan Ekonomi Lokal, Bupati Tangerang Lepas Fun Run 5K Komunitas Wisata Kreatif 2026






