Jakarta

Indonesia Darurat Diabetes, Gaya Hidup Manis Jadi Sorotan

Zainal Abidin | 20 Desember 2025, 06:30 WIB
Indonesia Darurat Diabetes, Gaya Hidup Manis Jadi Sorotan

AKURAT JAKARTA - Saat ini, diabetes melitus tercatat sebagai salah satu masalah kesehatan utama di dunia.

Pada 2021, jumlah penderita diabetes mencapai sekitar 537 juta orang dan diproyeksikan meningkat hingga 783 juta pada tahun 2045.

Indonesia termasuk negara dengan jumlah penderita diabetes yang besar, dengan angka kasus yang terus bertambah setiap tahunnya.

Baca Juga: Naik KRL Saat Libur Nataru Tetap Nyaman dengan Mengikuti Tips Berikut Ini

Lonjakan tersebut paling banyak terjadi di wilayah perkotaan, seiring pola hidup kurang sehat, meningkatnya obesitas, serta berbagai faktor risiko lainnya.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat hampir setengah penduduk Indonesia berusia di atas tiga tahun mengonsumsi minuman manis lebih dari satu kali per hari.

Sementara itu, sekitar 43,3 persen penduduk lainnya mengonsumsi minuman manis satu hingga enam kali dalam seminggu.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, 5 Teh Ini Diyakini Bisa Mengendalikan Mood

Kondisi ini membuat Indonesia disebut sebagai negara dengan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan tertinggi di kawasan Asia Pasifik.

Padahal, satu kemasan minuman berpemanis berukuran 250 ml rata-rata mengandung 22,8 gram gula.

Jumlah tersebut hampir mencapai setengah dari batas konsumsi gula harian yang dianjurkan.

Baca Juga: Dongeng Anak: Kancil dan Si Merak Sombong

Tingginya asupan gula ini memperberat upaya pengendalian diabetes, sehingga pemantauan kadar gula darah secara rutin menjadi langkah yang sangat penting.

Penderita diabetes dianjurkan menjaga kadar gula darah tetap dalam rentang target yang direkomendasikan, yaitu sebelum makan berada di angka 80–130 mg/dL dan dua jam setelah mulai makan kurang dari 180 mg/dL.

Meski begitu, sasaran kadar gula darah tidak sama untuk semua orang.

Baca Juga: Ternyata Sehat Belum Tentu Tepat, Ini Daftar Buah yang Bisa Mengganggu Tidur Malammu

Faktor usia, kondisi kesehatan penyerta, serta arahan dokter perlu menjadi pertimbangan utama agar pengelolaan diabetes tetap aman.

Selain pola makan, berbagai kondisi sehari-hari juga dapat memicu naiknya kadar gula darah.

Saat kamu sedang sakit atau mengalami infeksi, berada dalam kondisi stres fisik maupun emosional, mengonsumsi makanan berlebihan, atau kekurangan insulin dan obat diabetes, risiko hiperglikemia bisa meningkat.

Baca Juga: Konser Amal di Jogja: Hanyengkuyung Sumatra Digelar 23 Desember 2025, Hadirkan 14 Musisi dari Letto, Kunto Aji hingga Rebellion Rose

Jika sedang sakit dan kadar gula darah mencapai 240 mg/dL atau lebih, pemeriksaan keton sangat dianjurkan karena kadar keton tinggi dapat menjadi tanda awal ketoasidosis diabetik.

Untuk mencegah diabetes, penting bagi kamu memahami batas aman konsumsi gula dan risiko kesehatan yang ditimbulkannya.

Membaca label makanan, memilih pemanis alami, mengombinasikan makanan manis dengan protein atau serat, serta membiasakan pola makan rendah gula menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Aturan, Ini Penyebab Foto Paspor Nggak Boleh Senyum

Ditambah dengan aktivitas fisik rutin dan gaya hidup sehat, upaya ini dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil dalam jangka panjang. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.