Jakarta

Tumis Cengkaruk, Kuliner Musiman Betawi dari Bunga Durian yang Kini Mulai Langka

Anggerhana Denni Rahmawati | 5 Juli 2026, 19:45 WIB
Tumis Cengkaruk, Kuliner Musiman Betawi dari Bunga Durian yang Kini Mulai Langka
Tumis bunga durian khas Betawi. (Youtube Ami Masak)

AKURAT JAKARTA - Saat musim durian tiba, masyarakat Betawi tempo dulu memiliki tradisi unik yang berkaitan dengan bunga pohon durian yang gugur.

Bunga durian yang dikenal dengan nama karuk atau cengkaruk ternyata dapat diolah menjadi hidangan lezat yang khas.

Bagi anak-anak Betawi pada era 1980-an, musim durian bukan hanya tentang menikmati buah yang manis dan harum.

Mereka juga bersemangat berburu bunga durian yang berjatuhan di bawah pohon sejak dini hari menjelang Subuh.

Pada waktu itulah bunga durian segar banyak ditemukan dengan kondisi masih baik untuk dikumpulkan dan dimanfaatkan.

Bunga-bunga yang berhasil dikumpulkan biasanya dibawa pulang untuk dimasak oleh ibu menjadi hidangan keluarga.

Sebagian warga juga menjual hasil pungutan bunga durian ke pasar sebagai tambahan penghasilan musiman yang menarik.

Tradisi sederhana tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Betawi yang dekat dengan alam dan lingkungan sekitar.

Karuk merupakan sebutan khas Betawi untuk putik bunga durian yang gugur ketika pohon memasuki masa berbunga.

Meski terlihat sederhana, bunga durian memerlukan proses pembersihan sebelum siap diolah menjadi masakan yang nikmat.

Bagian serbuk sari dan lendir yang menempel harus dibersihkan agar menghasilkan cita rasa yang lebih sedap.

Setelah dibersihkan, bunga durian direbus terlebih dahulu hingga teksturnya menjadi lebih lunak dan siap dimasak.

Salah satu olahan yang paling terkenal adalah tumis cengkaruk yang hingga kini masih dikenal sebagian masyarakat Betawi.

Proses memasaknya cukup mudah dan tidak jauh berbeda dengan cara mengolah berbagai tumisan sayuran lainnya.

Bawang merah, bawang putih, cabai, dan lengkuas ditumis hingga harum untuk membangun rasa yang kuat dan menggugah.

Baca Juga: ARTJOG 2026, Liburan Seni Paling Berkesan di Yogyakarta yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan

=====

Ikan asin teri kemudian ditambahkan agar tumisan memiliki rasa gurih yang menjadi ciri khas hidangan tradisional ini.

Bunga durian yang telah direbus selanjutnya dimasukkan ke dalam tumisan hingga seluruh bumbu meresap sempurna.

Tekstur bunga durian yang matang terasa lembut dan kenyal sehingga memberikan sensasi makan yang cukup unik.

Banyak orang menyebut teksturnya mirip jamur tiram atau sayuran kangkung yang dimasak hingga empuk dan segar.

Perpaduan bunga durian, teri asin, dan cabai menghasilkan rasa gurih, pedas, serta aroma yang sangat menggoda.

Tumis cengkaruk paling nikmat disantap bersama nasi hangat saat masih baru diangkat dari atas kompor.

Karena hanya tersedia saat musim durian, hidangan ini selalu menjadi sajian yang dinanti oleh banyak keluarga.

Keberadaan tumis cengkaruk juga menjadi bukti bahwa masyarakat Betawi mampu memanfaatkan hasil alam secara kreatif.

Kuliner musiman ini menyimpan cerita tradisi, kebersamaan, dan kearifan lokal yang patut terus dilestarikan.

Di tengah beragam makanan modern, tumis cengkaruk tetap menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner Betawi yang unik. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.