Hukum Makan Daging Kelinci dalam Islam: Halal atau Haram? Ini Penjelasan Ulama dan Dasar Hukumnya

AKURAT JAKARTA - Kelinci selama ini dikenal sebagai hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Namun di beberapa daerah di Indonesia, kelinci juga populer diolah menjadi kuliner lezat.
Banyak masakan berbahan daging kelinci yang kita temui di masyarakat, seperti sate kelinci; gulai kelinci; tongseng kelinci; rica-rica kelinci; dan beberapa masakan lainnya.
Fenomena ini sering kali memicu pertanyaan di kalangan umat Muslim: apa hukum makan daging kelinci dalam Islam? Apakah halal atau haram?
Untuk menjawab keraguan tersebut, berikut adalah ulasan lengkap mengenai status hukum daging kelinci berdasarkan dalil hadits dan pandangan para ulama.
Dasar Hukum Daging Kelinci dalam Hadits Sahih
Kehalalan daging kelinci didasarkan pada tindakan Nabi Muhammad SAW yang pernah menerima dan mengizinkan umatnya untuk mengonsumsi hewan tersebut.
Hadits pertama diriwayatkan oleh Anas bin Malik RA, ia menceritakan: "Kami pernah berusaha menangkap kelinci di Lembah Marru Zhohran. Orang-orang berusaha menangkapnya hingga mereka kelelahan. Kemudian aku berhasil menangkapnya lalu aku berikan kepada Abu Tholhah. Dia pun menyembelihnya, kemudian daging paha (kelinci tersebut) diberikan kepada Nabi SAW dan beliau menerimanya." (HR. Bukhari No. 5535, Muslim No. 1953, dan Tirmidzi No. 1789)
Hadits kedua berasal dari Muhammad bin Shafwan RA yang berkata: "Saya menangkap dua kelinci, tetapi saya tidak mendapatkan alat untuk menyembelihnya, hingga saya bisa menyembelihnya di Marwah. Kemudian aku tanyakan hal itu kepada Nabi SAW, dan beliau menyuruhku untuk memakannya." (HR. Nasai No. 4313, Abu Daud No. 2822, Ibnu Majah No. 3175, dan disahihkan oleh Al-Albani).
Pandangan Mayoritas Ulama Fikih
Kedua hadits sahih di atas menjadi landasan kuat bagi mayoritas ulama untuk menetapkan bahwa kelinci adalah hewan yang halal dikonsumsi.
Pendapat ini didukung oleh tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam, antara lain: Sa'ad bin Abi Waqqash, Abu Said Atha, Ibnul Musayyab Al-Laits, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Ibnul Mundzir.
Bahkan, saking kuatnya dasar hukum ini, seorang ulama besar mazhab Hambali bernama Ibnu Qudamah menegaskan dalam kitab Al-Mughni (9/412):
"Kami tidak mengetahui ada seorang pun ulama yang berpendapat haramnya kelinci, kecuali satu riwayat dari Amr bin Al-Ash."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya


