Ini Cerita Wartawan Palestina Setelah Dibebaskan dari Tahanan Israel, Bandingkan dengan Warga Israel yang Sempat Ditahan Hamas

AKURAT JAKARTA - Berikut ini pengakuan seorang wartawan Palestina yang baru saja dibebaskan dari tahanan Israel.
Lalu, bandingkan dengan pengakuan warga Israel yang sempat ditahan Hamas, Palestina, beberapa waktu lalu.
Diaa al-Kahlout (37), jurnalis atau wartawan Palestina baru saja dibebaskan dari tahanan Israel, Selasa (9/1/2024). Kahlout dibebaskan, setelah lebih dari sebulan ditahan tentara Israel.
Kepada The New Arab, media milik Qatar yang berbasis di London, Kahlout bercerita terkait apa yang dialaminya selama dalam tahanan tentara Israel.
Kahlout mengaku, menghadapi penyiksaan selama dalam tahanan Israel. Ia ditelanjangi, dipukuli dan disiksa dengan cara-cara keji oleh tentara Israel.
"Saat saya ditahan, tentara Israel berkerumun di sekitar saya. Sebelum mereka menyumbat mulut saya dengan selotip, sehingga saya tidak dapat berbicara," kata Kahlout, dikutip dari AFP, pada Rabu (10/1/2024)
Kahlout merupakan salah satu dari puluhan warga Palestina yang ditahan tentara Israel di Gaza utara, sejak bulan lalu.
Pengakuan Kahlout ini dibenarkan oleh wartawan Reporters Without Borders (RSF), media yang berbasis di Paris.
Dalam laporannya, RSF menyebutkan bahwa Kahlout sempat ditahan sebentar di penjara Eshel di Israel, dan menjadi sasaran penyiksaan.
Dalam rekaman bulan lalu, beberapa pria Pelastina termasuk Kahlout, ditelanjangi oleh tentara Israel hingga hanya mengenakan selana dalam.
Rekaman itu disiarkan oleh media Israel yang melaporkan dugaan penyerahan diri militan Hamas.
Tentara Israel mengakui, mereka sering menelanjangi orang-orang yang dianggap dapat membahayakan, karena diduga membawa senjata atau bahan peledak.
RSF mengatakan Israel telah menangkap total 38 wartawan Palestina sejak 7 Oktober 2023. Saat ini masih ada 31 wartawan Palestina yang ditahan Israel.
"Intimidasi ini, teror ini, upaya tanpa henti untuk membungkam jurnalisme Palestina, baik dengan rantai, peluru atau bom. Ini harus dihentikan," kata Jonathan Dagher, kepala RSF untuk Timur Tengah.
"Kami menyerukan pembebasan segera semua jurnalis yang ditahan dan segera memberikan perlindungan kepada mereka," tambahnya.
Pengakuan Kahlout ini berbanding terbalik dengan warga Israel yang sempat ditahan Hamas, yang kemudian dibebaskan pada 28 November 2023 lalu.
Seperti yang diungkapkan Vetoon Phoome, warga Israel keturunan Thailand, yang sempat menjadi sandera Hamas. Phoome terlihat sehat dan baik-baik saja saat keluar dari markas Hamas di Gaza.
“Wajahnya sangat bahagia, dia tampak baik-baik saja. Dia mengatakan bahwa dia tidak disiksa atau diserang dan diberi makanan enak,” jelas Roongarun Wichanguen, saudara peremuan dari Phoome.
“Dia dirawat dengan sangat baik. Sepertinya dia tinggal di rumah, bukan di terowongan,” tambah Wichanguen dikutip dari New York Post.
Tak hanya itu, dalam cuplikan video yang dirilis militan Hamas terlihat dengan jelas kondisi fisik para tawanan yang sehat tanpa ada luka. Bahkan mereka tampak bersih dengan baju yang pantas.
Dalam video lainnya, seorang tentara Hamas tampak mengantar wanita yang menggunakan tongkat. Keduanya bertukar salam perpisahan. "Selamat tinggal Maya," ucap salah satu tentara Hamas.
Sang wanita yang diketahui bernama Maya, dengan tersenyum menjawab "Selamat tinggal, syukron (terima kasih)."
“Mereka bersahabat dengan kami dan merawat seorang pria yang terluka parah dalam kecelakaan sepeda. Ada seorang perawat yang merawatnya dan memberinya obat-obatan dan antibiotik,” ujar salah satu sandera dalam video.
“Mereka ramah dan menjaga kebersihan tempat dan kami makan bersama. Ketika kami tiba, mereka mengatakan bahwa mereka adalah Muslim yang percaya pada Al-quran dan tidak akan menyakiti kami. Mereka sangat murah hati dan ini harus dikatakan,” tambahnya. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









