Jakarta

Heboh Peta Merah Gas Beracun Anak Krakatau, Begini Kata Badan Geologi

Yusuf Doank | 8 September 2026, 11:28 WIB
Heboh Peta Merah Gas Beracun Anak Krakatau, Begini Kata Badan Geologi
Heboh Peta Merah Gas Beracun Anak Krakatau

AKURAT JAKARTA– Beredar gambar peta satelit memperlihatkan sebaran gas sulfur dioksida (SO2) berwarna merah pekat pasca-erupsi Gunung Anak Krakatau.

Hal itu memicu keresahan masyarakat di media sosial dan mendapat tanggapan dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Badan Geologi menjelaskan bahwa SO2 merupakan senyawa kimia berupa gas beracun tak berwarna yang memiliki bau menyengat khas belerang.

Baca Juga: BMKG dan BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Bergerak dari Bandara Semarang dan Pondok Cabe

Meskidemikian, dampak bahayanya sangat bergantung pada tingkat ketinggian gas tersebut di lapisan troposfer.

"Bahaya SO2 ini bergantung pada tingkat ketinggiannya di troposfer. Apabila berada di ketinggian tertentu, gas tersebut tidak langsung terhirup oleh masyarakat," tulis Badan Geologi melalui akun Instagram resminya, Selasa (8/9/2026).

Warna Merah Bukan Kualitas Udara di Permukaan

Pihak Badan Geologi juga meluruskan persepsi publik terkait warna merah pekat yang terlihat pada peta sebaran satelit.

Warna tersebut bukan menandakan konsentrasi gas berbahaya di permukaan tanah yang dihirup manusia.

Arti Warna Merah: Menunjukkan konsentrasi gas yang lebih tinggi dari udara normal di lapisan atmosfer, bukan indikator kualitas udara di permukaan bumi.

Satuan Ukur: Peta tersebut menggunakan satuan mg/m2 (massa per satuan luas kolom udara), berbeda dengan satuan parts per million (ppm) yang biasa digunakan untuk mengukur udara pernapasan.

Langkah Antisipasi Bagi Masyarakat

Kendati demikian, masyarakat diimbau tetap waspada jika menghirup bau menyengat akibat aktivitas vulkanik. Badan Geologi membagikan sejumlah langkah pencegahan:

Gunakan Masker: Pakai masker penutup hidung dan mulut jika tercium bau belerang yang menyengat.

Tetap di Dalam Rumah: Kurangi aktivitas di luar ruangan untuk meminimalkan paparan gas.

Hindari Air Hujan: Jangan mengonsumsi atau menampung air hujan selama fenomena ini berlangsung karena berisiko bersifat asam yang dapat merusak kesehatan.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y