Jakarta

Lebaran Idulfitri 2026 Berpeluang Beda, Penyebabnya Elongasi Hilal Masih di Bawah Kriteria

Yusuf Doank | 9 Maret 2026, 21:08 WIB
Lebaran Idulfitri 2026 Berpeluang Beda, Penyebabnya Elongasi Hilal Masih di Bawah Kriteria
Lebaran Idulfitri 2026 Berpeluang Beda, Penyebabnya Elongasi Hilal Masih di Bawah Kriteria

AKURAT JAKARTA - Umat Islam di Indonesia berpotensi merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah secara tidak bersamaan.

Pasalnya, berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal pada akhir Ramadhan tahun ini diprediksi belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang disepakati oleh negara-negara anggota MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Direktur Urusan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag), Arsad Hidayat, mengungkapkan bahwa data hisab menunjukkan ketinggian hilal saat ini berada di rentang 0 hingga 3 derajat.

Baca Juga: Korban Jiwa Longsor Sampah Bantargebang Bertambah Menjadi Lima Orang

Dengan posisi tertinggi terpantau di wilayah Aceh. Sementara itu, parameter elongasi berada di kisaran 4 hingga 6 derajat.

"Kalau kriteria imkan rukyat versi MABIMS itu elongasinya minimal 6,4 derajat. Jadi, berdasarkan kriteria visibilitas tersebut, memang masih belum memungkinkan hilal untuk bisa dilihat," ujar Arsad dalam press briefing di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Arsad menjelaskan, meski dari sisi ketinggian hilal ada wilayah yang mungkin mencapai 3 derajat, namun aspek elongasi yang masih di bawah 6,4 derajat menjadi kendala utama dalam memenuhi standar formal pemerintah.

Kondisi ini membuka peluang terjadinya perbedaan tanggal 1 Syawal antara ketetapan pemerintah dengan Muhammadiyah, serupa dengan awal Ramadhan lalu.

Kendati demikian, Kemenag menegaskan bahwa kepastian resmi tetap akan bersandar pada hasil Sidang Isbat. "Keputusan akhir tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan dilaksanakan pada 19 Maret 2026," tegasnya.

Dihubungi secara terpisah, Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengamini prakiraan tersebut. Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Di sisi lain, jika merujuk pada standar MABIMS, saat Maghrib 19 Maret 2026 posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi syarat visibilitas. Jika hilal gagal teramati, maka bulan Ramadhan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal), sehingga Idul Fitri versi pemerintah kemungkinan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Di tengah potensi perbedaan ini, Kemenag senantiasa mengimbau umat Muslim untuk tetap menjaga kerukunan dan mengedepankan sikap saling menghormati dalam menjalankan ibadah, sesuai dengan semangat ukhuwah Islamiyah. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Y
Reporter
Yusuf Doank
Y