BMKG Ingatkan Fenomena Siklon Tidak Bisa Dimodifikasi, Hanya Bisa Diantisipasi

AKURAT JAKARTA — BMKG menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak memiliki kemampuan untuk mengubah atau menghilangkan fenomena siklon tropis.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan bahwa teknologi modifikasi cuaca saat ini hanya mampu berperan dalam memitigasi dampak curah hujan yang ditimbulkan oleh siklon tersebut.
Pernyataan tersebut disampaikan Faisal usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: Jakarta Masih Dikepung Banjir, 29 RT Tergenang, Ratusan Jiwa Bertahan di Pengungsian
Dia menekankan bahwa hingga saat ini belum ada negara di dunia yang mampu melakukan intervensi langsung terhadap pusat kekuatan siklon.
"Satu negara pun belum ada yang mampu melakukan modifikasi cuaca pada bibit siklon atau pusat siklonnya. Namun, wilayah yang terdampak oleh pergerakan siklon tersebut masih bisa kita antisipasi," kata Faisal.
Ia menjelaskan, keberadaan siklon kerap memicu peningkatan curah hujan ekstrem di wilayah sekitarnya.
Baca Juga: Mau Tiket Konser Gratis Bryan Adams? Simak Caranya di Sini
Sebagai langkah preventif, BMKG melakukan modifikasi cuaca di daerah terdampak guna menjaga agar intensitas hujan tetap berada pada batas normal.
Faisal mencontohkan, apabila terjadi siklon di barat daya Lampung, maka intervensi cuaca akan dilakukan di wilayah Lampung, Bengkulu, hingga Banten.
"Langkah ini bertujuan agar bencana hidrometeorologi dapat ditekan. Modifikasi cuaca mampu mengurangi intensitas hujan hingga sekitar 30 persen. Angka ini cukup signifikan untuk mengurangi beban daerah tangkapan hujan," jelasnya.
Namun, Faisal juga menyoroti tantangan lain dalam pengendalian bencana, yakni perubahan tata guna lahan.
Menurutnya, meskipun curah hujan dapat dikendalikan melalui OMC, daya tampung lingkungan yang kian menyusut akibat pembangunan masif menjadi faktor risiko terjadinya banjir dan tanah longsor.
"Tekanan pada lingkungan dan perubahan struktur lahan membuat curah hujan yang sama dengan satu dekade lalu kini lebih berpotensi memicu bencana. Inilah yang coba kita kendalikan melalui sinergi antara operasi modifikasi cuaca dan pengelolaan tata ruang yang lebih baik," pungkas Faisal.(*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Prediksi Skor Sevilla vs Rayo Vallecano di La Liga, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Meraih Kemenangan Perdana di Laga Pembuka?
- 2Prediksi Skor Deportivo Alaves vs Getafe di La Liga, 16 Agustus 2026: Duel Dua Tim dengan Modal Pramusim Berbeda
- 3Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche di La Liga, 18 Agustus 2026: Duel Tim Promosi dan Penghuni Zona Bawah
- 4Prediksi Skor Espanyol vs Levante di La Liga, 17 Agustus 2026: Mampukah Los Periquitos Mengawali Musim dengan Kemenangan Kandang?
- 5Prediksi Skor Racing Santander vs Villarreal di La Liga, 16 Agustus 2026: Debutan Promosi Tantang Penghuni Tiga Besar
- 6Prediksi Skor Casa Pia vs Benfica di Liga Portugal, 18 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Mengulang Kejutan?
- 7Prediksi Skor Ajax vs Heerenveen di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Kembali Dominan di Johan Cruijff Arena?
- 8Prediksi Skor Excelsior vs PSV Eindhoven di Eredivisie, 16 Agustus 2026: Mampukah Tuan Rumah Patahkan Dominasi Sang Juara Bertahan?
- 9Permudah Transaksi Nasabah, BPR Kerta Raharja Gemilang Luncurkan Layanan Digital MOLEC, Ini Kelebihannya!
- 10Fasilitas Mewah KM Dharma Kartika V Dinodai Dugaan Pelecehan Anak hingga Pengeroyokan Pelajar, Begini Kronologinya






