Profil Ismail Haniyah, Mantan Perdana Menteri Palestina dan Pemimpin Hamas yang Meninggal Dibunuh Israel di Iran

AKURAT JAKARTA - Pemimpin Hamas Palestina, Ismail Haniyeh, meninggal dunia akibat serangan Israel ke kediamannya di Teheran, Iran, pada Rabu (31/7/2024) pagi WIB.
Selain Ismail Haniyeh, serangan tersebut juga menewaskan salah satu pengawalnya.
Memiliki nama lengkap Ismail Abdul Salam Ahmad Haniyyah. Dia adalah pemimpin politik senior Hamas dan mantan Perdana Menteri Palestina.
Ismail Haniyah dikenal sebagai pemimpin Hamas yang lebih moderat dan dekat dengan pemimpin spiritual Hamas, Sheikh Ahmad Yassin, yang juga tewas dibunuh Israel.
Berikut profil singkat Ismail Haniyeh.
- Nama:Ismail Abdul Salam Ahmad Haniyyah
- Kelahiran: 29 Januari 1962, Al-Shati Camp, Gaza
- Anak: Sarah Haniyeh, Hazem Haniyeh, Moath Haniyeh, MORE
- Pendidikan: Islamic University of Gaza
- Saudara kandung: Laila Haniyeh, Kholidia Haniyeh, Sabah Haniyeh, Suhila Abd el‑Salam Ahmed Haniyeh
- Partai: Hamas
- Jabatan sebelumnya: Perdana Menteri Palestina.
- Meninggal: 31 Juli 2024, di Teheran, Iran
Ismail Haniyah menjabat sebagai pemimpin pemerintahan de facto di Jalur Gaza pada 2007 sampai 2014.
Pada tahun 2017, dia dipilih untuk menggantikan Khaled Meshaal sebagai kepala biro politik Hamas.
Dilansir dari Britannica, Ismail Haniyah menghabiskan masa kecilnya di kamp pengungsi Al Shati di Jalur Gaza, tempat dia dilahirkan.
Seperti anak-anak pengungsi Palestina pada umumnya, Ismail Haniyah dididik di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Badan Bantuan PBB untuk Palestina (UNRWA).
Pada tahun 1981, Ismail Haniyah mendaftar di Universitas Islam Gaza, tempatnya belajar sastra Arab.
Dia juga aktif dalam politik mahasiswa, memimpin perkumpulan mahasiswa Islam yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin.
Ketika kelompok Hamas terbentuk pada 1988, Ismail Haniyah adalah salah satu anggota pendiri termuda.
Dia ditangkap oleh Israel pada 1988 dan dipenjara selama enam bulan karena terlibat dalam intifada pertama.
Dia ditangkap lagi pada 1989 dan dipenjara hingga dideportasi ke Lebanon selatan pada 1992.
Baca Juga: Iptu Rudiana Sesumbar Mati 7 Turunan Saat Tanggapi Kasus Vina Cirebon
Pada 2019, Ismail Haniyah meninggalkan Jalur Gaza dan mulai tinggal di Turki dan Qatar, mewakili Hamas di luar negeri.
Selama perang Israel-Hamas, Ismail Haniyah memimpin delegasi Hamas dalam negosiasi yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir.
April 2024 lalu, tiga anak Ismail Haniyah dan empat cucunya tewas dalam serangan Israel. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









