Jakarta

Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Tuai Kecaman dari Orang Tua Murid, Begini Katanya

Laode Akbar | 13 Juli 2026, 16:54 WIB
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Tuai Kecaman dari Orang Tua Murid, Begini Katanya
Tim Gegana dan Densus 88 menyisin kawaaan SDN Srengseng Sawa

AKURAT JAKARTA - Ancaman teror bom yang terjadi di SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (13/7) menuai kecaman dari para orang tua.

Mereka menilai aksi tersebut tidak hanya mengganggu kegiatan belajar mengajar, tetapi juga berpotensi meninggalkan trauma psikologis bagi anak-anak.

Salah satu orang tua murid SMP 174 Ciracas yang juga mengikuti MPLS, Rizky Basuki (40), mengaku khawatir dengan munculnya ancaman bom di lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar.

"Di lingkungan sekolah pun ada rasa tidak aman. Seharusnya hal itu bisa diantisipasi oleh aparat keamanan, khususnya kepolisian. Mudah-mudahan pelaku yang menyebarkan isu bom itu segera tertangkap," kata Rizky kepada Akurat Jakarta, Senin (13/7/2026).

Baca Juga: Fatherless Bukan Sekadar Ayah Tak Ada, Psikologi Jelaskan Pentingnya Keterlibatan Ayah Sejak Anak Tumbuh

Ia menilai ancaman tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis siswa, terutama karena terjadi bertepatan dengan dimulainya kegiatan MPLS.

"Pasti akan mempengaruhi psikologis murid, takutnya mengganggu kegiatan belajar mereka jadi nggak konsen," ujarnya.

Meski demikian, Rizky mengaku tidak memiliki kekhawatiran berlebihan terhadap pelaksanaan MPLS di sekolah anaknya.

Menurut dia, pihak sekolah telah memberikan jaminan bahwa kegiatan pengenalan lingkungan sekolah bebas dari praktik perundungan maupun senioritas.

"Sudah ada jaminan dari pihak sekolah bahwa kegiatan MPLS tidak akan ada bullying atau kegiatan yang menunjukkan senioritas. Saya sebagai orang tua merasa lebih aman," katanya.

Baca Juga: Gubernur Pramono Sebut SPMB DKI 2026/2027 Berjalan Lancar, Klaim Keluhan Publik Hampir Tidak Ada

Ia bahkan mengapresiasi kebijakan sekolah anaknya yang menerapkan komitmen tegas terhadap pelaku perundungan.

"Kalau ada anak yang terbukti melakukan bullying, akan dikeluarkan. Saya setuju banget dengan aturan itu karena bullying memang masih terjadi di lingkungan sekolah," ucapnya.

Senada, orang tua lainnya dari siswa SD Nurul Fajar Citayam, Fakhrizal Fakhri (35), mengecam keras aksi teror yang terjadi di SDN Srengseng Sawah 15. Menurutnya, hari pertama sekolah seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bagi anak-anak.

"Apapun alasannya, apapun modusnya, tidak bisa dibenarkan. Pelaku harus ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Fakhrizal.

Baca Juga: Here We Go! Aston Villa Tikung Newcastle untuk Rekrut Johan Manzambi, Transfer Rekor Klub Segera Terwujud

Ia mengatakan ancaman tersebut berpotensi menimbulkan trauma, khususnya bagi siswa sekolah dasar yang masih berada pada usia rentan.

"Seharusnya hari pertama sekolah itu diisi dengan kegembiraan, kebahagiaan, bukan dengan ketakutan. Itu tidak baik bagi kondisi psikologis anak, apalagi masih anak-anak SD," ujarnya.

Meski mengecam aksi tersebut, Fakhrizal menegaskan dirinya tidak akan membiarkan teror membuat orang tua takut mengantar anak ke sekolah.

"Teror itu memang harus dilawan. Kalau kita takut, itu justru tujuan pelaku. Tidak boleh kita takut terhadap aksi terorisme seperti itu," tegasnya.

Fakhrizal mengaku tetap meluangkan waktu untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah di tengah kesibukan bekerja. Baginya, kehadiran orang tua pada momen MPLS menjadi bagian penting dalam mendukung proses adaptasi anak di lingkungan sekolah yang baru.

"Jadi MPLS itu bukan cuma dinikmati murid, tapi juga orang tua. Kita bisa melihat anak beradaptasi, mengenal guru-gurunya, dan memastikan mereka merasa nyaman," katanya.

Baca Juga: Prediksi Skor Djurgardens vs Halmstads di Allsvenskan 2026, 14 Juli 2026: Misi Tuan Rumah Menjaga Tren Positif

Diketahui, teror bom di SDN Srengseng Sawah 15, Jagakarsa, Jakarta Selatan, menggegerkan hari pertama masuk sekolah pada Senin (13/7/2026).

Ancaman itu dikirim melalui pesan WhatsApp kepada guru dan staf tata usaha saat murid sedang mengikuti upacara bendera.

Polisi memastikan sekolah dalam kondisi aman setelah penyisiran oleh Tim Gegana dan Densus 88.

Sementara itu, pengirim pesan teror telah ditangkap dan kini masih diperiksa untuk mengungkap motif aksinya. (*)

Gambar: Tim Gegana dan Densus 88 melakukan sterilisasi di SDN Srengseng Sawah 15, Jakarta Selatan (@infosrengsengsawah)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.